
.gif)
MEGA123-Karina adalah gadis yg cantik dgn badan yg seksi dan kulit yg putih serta mulus,
kekasihku ini walaupun buah dadanya tidak terlalu besar tetapi cukup membuat aku nafsu
dan menikmatinya, jujur saja aku belum pernah melakukan hubungan badan dgnnya ,
mungkin saja bila kita sama hornynya kita melakukan oral sex.Karina di rumah mempunyai
saudara yg mana keduanya perempuan semua sama juga dgn Karina sama cantiknya,
adek yg pertama namanya Nadia dia juga sama mempunyai buah dada yg sedang sedang
saja, tapi lebih besar dari Karina, disamping aku mengapeli Karina aku juga sering melihat
Nadia dgn buah dadanya yg melonjak lonjak.Sedangkan adiknya yg kedua masih kelas 2
SMP. Namanya Fanny. Tidak seperti kedua kakaknya, kulitnya berwarna sawo matang.
Badannya semampai seperti seorang model cat walk. Buah dadanya baru tumbuh.
Sehingga kalau memakai baju yg ketat, cuma terlihat tonjolan kecil dgn puting yg mencuat.
Walaupun begitu, gerak-geriknya sangat sensual.
Pada suatu hari, saat di rumah Karina sedang tidak ada orang, aku datang ke rumahnya.
Wah, pikiranku langsung terbang ke mana-mana. Apalagi Karina mengenakan daster dgn
potongan dada yg rendah berwarna hijau muda sehingga terlihat kontras dgn
kulitnya.Kebetulan saat itu aku membawa VCD yg baru saja kubeli. Maksudku ingin
kutonton berdua dgn Karina. Baru saja hendak kupencet tombol play, tiba-tiba Karina
menyodorkan sebuah VCD dewasa.“Hei, dapat darimana sayg?” tanyaku sedikit
terkejut.“Dari kawan. Tadi dia titip ke Karina karena takut ketahuan ibunya”, katanya sambil
duduk di pangkuanku.“Nonton ini aja ya sayg. Karina kan belum pernah nonton yg kayak
gini, ya?” pintanya sedikit memaksa.“Oke, terserah kamu”, jawabku sambil menyalakan
TV.Beberapa menit kemudian, kita terpaku pada adegan sensual demi adegan sensual yg
ditampilkan. Tanpa terasa kemaluanku mengeras. Menusuk-nusuk bokong Karina yg
duduk di pangkuanku. Karina pun memandang ke arahku sambil tersenyum. Rupanya dia
juga merasakan.“Ehm, kamu udah terangsang ya sayg?” tanyanya sambil mendesah dan
kemudian mengulum telingaku.Aku cuma bisa tersenyum kegelian. Lalu tanpa basa-basi
kuraih bibirnya yg merah dan langsung kucium, kujilat dgn penuh nafsu. Jari-jemari Karina
yg mungil mengelus-elus kemaluanku yg semakin mengeras. Lalu beberapa saat
kemudian,Tanpa kita sadari ternyata kita sudah telanjang bulat. Segera saja Karina
kugendong menuju kamarnya. Di kamarnya yg nyaman kita mulai melakukan foreplay.
Kuremas buah dadanya yg kiri. Sedangkan yg kanan kukulum putingnya yg mengeras.
Kurasakan buah dadanya semakin mengeras dan kenyal.Kuganti posisi. Sekarang lidahku
liar menjilati kemaluannya yg basah. Kuraih klitorisnya, dan kugigit dgn lembut.“Aahh…
ahh… sa.. sayg, Karina udah nggak kuat… emh… ahh… Karina udah mau keluar…
aackh… ahh… ahh!”Kurasakan ada cairan hangat yg membasahi mukaku. Setelah itu,
kudekatkan kemaluanku ke arah mulutnya. Tangan Karina meremas gagangku sambil
mengocoknya dgn perlahan, sedangkan lidahnya memainkan buah pelirku sambil sesekali
mengulumnya.Setelah puas bermain dgn buah pelirku, Karina mulai memasukkan
kemaluanku ke dalam mulutnya. Mulutnya yg mungil tidak muat saat kemaluanku masuk
seluruhnya. Tapi kuakui sedotannya memang nikmat sekali.Sambil terus mengulum dan
mengocok gagang kemaluanku, Karina memainkan puting susuku. Sehingga membuatku
hampir ejakulasi di mulutnya. Untung masih dapat kutahan. Aku tidak mau keluar dulu
sebelum merasakan kemaluanku masuk ke dalam kemaluannya yg masih perawan
itu.Saat sedang hot-hotnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku dan Karina terkejut bukan
main. Ternyata yg datang adalah kedua adiknya. Keduanya spontan berteriak kaget.“Kak
Karina, apa-apan sih? Gimana kalau ketahuan Bunda?” teriak Fanny.Sedangkan Nadia
cuma menunduk malu.Aku dan Karina saling berpandangan. Kemudian aku bergerak
mendekati Fanny. Melihatku yg telanjang bulat dgn kemaluan yg berdiri tegak, membuat
Fanny berteriak tertahan sambil menutup matanya.“Iih… Kakak!” jeritnya.“Itunya berdiri!”
katanya lagi sambil menunjuk kemaluanku.Aku cuma tersenyum melihat tingkah lakunya.
Setelah dekat, kurangkul dia sambil berkata,“Fanny, Kakak sama Kak Karina kan nggak
ngapa-ngapain. Kita kan lagi pacaran. Yg namanya orang pacaran ya… kayak begini ini.
Nanti kalo Fanny dapet kekasih, pasti ngelakuin yg kayak begini juga. Fanny udah bisa
apa belum?” tanyaku sambil mengelus pipinya yg halus.Fanny menggeleng perlahan.“Mau
nggak Kakak ajarin?” tanyaku lagi.Kali ini sambil meremas bokongnya yg padat.“Mmh,
Fanny malu ah Kak”, desahnya.“Kenapa musti malu? Fanny suka nggak sama Kakak?”
kataku sambil menciumi belakang lehernya yg ditumbuhi rambut halus.“Ahh, i.. iya. Fanny
udah lama suka ama Kakak. Tapinya nggak enak sama Kak Karina”, jawabnya sambil
memejamkan mata.Rupanya Fanny menikmati ciumanku di lehernya. Setelah puas
menciumi leher Fanny, aku beralih ke Nadia.“Kalo Nadia gimana? Suka nggak ama
Kakak?” Nadia mengangguk sambil kepalanya masih tertunduk.“Ya udah. Kalo gitu tunggu
apa lagi”, kataku sambil menggandeng keduanya ke arah tempat tidur.Nadia duduk di
pinggiran tempat tidur sambil kusuruh untuk mengulum kemaluanku. Pertamanya sih dia
nggak mau, tapi setelah kurayu sambil kuraba buah dadanya yg besar itu, Nadia mau
juga. Bahkan setelah beberapa kali memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya, Nadia
rupanya sangat menikmati tugasnya itu.Sementara Nadia sedang memainkan
kemaluanku, aku mulai merayu Fanny.“Fanny, bajunya Kakak buka ya?” pintaku sedikit
memaksa sambil mulai membuka kancing baju sekolahnya.Lalu kulanjutkan dgn membuka
roknya. Ketika roknya jatuh ke lantai, terlihat CD-nya sudah mulai basah. Segera saja
kulumat bibirnya dgn bibirku. Lidahku bergerak-gerak menjilati lidahnya. Fanny pun
kemudian melakukan hal yg sama. Sambil tetap menciumi bibirnya, tanganku bKarinaksud
membuka BH-nya. Tapi segera ditepiskannya tanganku.“Jangan Kak, malu. Dada Fanny
kan kecil”, katanya sambil menutupi dadanya dgn tangannya.Dgn tersenyum kuajak dia
menuju ke kaca yg ada di meja rias. Kusuruh dia berkaca. Sementara aku ada di
belakangnya.“Dibuka dulu ya!” kataku membuka kancing BH-nya sambil menciumi
lehernya.Setelah BH-nya kujatuhkan ke lantai, buah dadanya kuremas perlahan sambil
memainkan putingnya yg berwarna coklat muda dan sudah mengeras itu.“Nah, kamu lihat
sendiri kan. Biar dada kamu kecil, tapi kan bentuknya bagus. Lagian kamu kan emang
masih kecil, wajar aja kalo dada kamu kecil. Nanti kalo udah gede, dada kamu pasti ikutan
gede juga”, kataku sambil mengusapkan kemaluanku ke belahan bokongnya.Fanny
mendesah keenakan. Kepalanya bersandar ke dadaku. Tangannya terkulai lemas. Cuma
nafasnya saja yg kudengar makin memburu. Segera kugendong dia menuju ke tempat
tidur. Kutidurkan dan kupelorotkan CD-nya.Baca cerita sex lain hanya di
Lensa69.netRambut kemaluannya masih sangat jarang. Menyerupai rambut halus yg
tumbuh di tangannya. Kulebarkan kakinya agar mudah menuju ke kemaluannya. Kucium
dgn lembut sambil sesekali kujilat klitorisnya. Sementara Nadia kusuruh untuk meremasremas buah dadanya adiknya itu.“Aahh… ach… ge… geli Kak. Tapi nikmat sekali, aahh
terus Kak. Jangan berhenti. Mmh… aahh… ahh.”Setelah puas dgn kemaluan Fanny. Aku
menarik Nadia menjauh sedikit dari tempat tidur. Karina kusuruh meneruskan. Lalu dgn
gaya 69, Karina menyuruh Fanny menjilati kemaluannya. Sementara itu, aku mulai
mencumbu Nadia. Kubuka kaos ketatnya dgn terburu-buru. Lalu segera kubuka BH-nya
Sehingga buah dadanya yg besar bergoyg-goyg di depan mukaku.“Wow, tete kamu bagus
banget. Apalagi putingnya, merah banget kayak permen”, godaku sambil meremas-remas
buah dadanya dan mengulum putingnya yg besar.Sedangkan Nadia cuma tersenyum
malu.“Ahh, ah Kakak, bisa aja”, katanya sambil tangan kirinya mengelus kepalaku dan
tangan kanannya berusaha manjangkau kemaluanku.Melihat dia kesulitan, segera
kudekatkan kemaluanku dan kutekan-tekankan ke kemaluannya. Sambil mendesah
keenakan, tangannya mengocok kemaluanku. Karena kurasakan air maniku hampir saja
muncrat, segera kuhentikan kocokannya yg benar-benar nikmat itu. Harus kuakui,
kocokannya lebih nikmat daripada Karina.Setelah menenangkan diri agar air maniku tidak
keluar dulu, aku mulai melorotkan CD-nya yg sudah basah kuyup. Begitu terbuka, terlihat
rambut kemaluannya lebat sekali, walaupun tidak selebat Karina, sehingga membuatku
sedikit kesulitan melihat kemaluannya.Setelah kusibakkan, baru terlihat kemaluannya yg
berair. Kusuruh Nadia mengangkang lebih lebar lagi agar memudahkanku menjilat
kemaluannya. Kujilat dan kuciumi kemaluannya. Kepalaku dijepit oleh kedua pacuma yg
putih mulus dan padat. Nyaman sekali pikirku.“aahh, Kak… Nadia mau pipiss…” erangnya
sambil meremas pundakku.“Keluarin aja. Jangan ditahan”, kataku.Baru selesai ngomong,
dari kemaluannya terpancar air yg lumayan banyak. Bahkan kemaluanku sempat terguyur
oleh pipisnya. Wah nikmat sekali jeritku dalam hati. Hangat. Setelah selesai, kuajak Nadia
kembali ke tempat tidur.Kulihat Karina dan Fanny sedang asyik berciuman sambil tangan
keduanya memainkan kemaluannya masing-masing. Sementara di sprei terlihat ada
banyak cairan. Rupanya keduanya sudah sempat ejakulasi. Karena Karina adalah
kekasihku, maka ia yg dapat kesempatan pertama untuk merasakan kemaluanku. Kusuruh
Karina nungging.“Sayg, Karina udah lama nunggu saat-saat ini”, katanya sambil
mengambil posisi nungging.Setelah sebelumnya sempat mencium bibirku dan kemudian
mengecup kemaluanku dgn mesra. Tanpa berlama-lama lagi, kuarahkan kemaluanku ke
kemaluannya yg sedikit membuka. Lalu mulai kumasukkan sedikit demi sedikit.
Kemaluannya masih sangat sempit. Tapi tetap kupaksakan. Dgn hentakan, kutekan
kemaluanku agar lebih masuk ke dalam.“Aachk! Sayg, sa… sakit! aahhck… ahhck…”
Karina mengerang tetapi aku tak peduli.Kemaluanku terus kuhunjamkan. Sehingga
akhirnya kemaluanku seluruhnya masuk ke dalam kemaluannya. Kuistirahatkan
kemaluanku sebentar. Kurasakan kemaluannya berdenyut-denyut. Membuatku ingin
beraksi lagi.Kumulai lagi kocokan kemaluanku di dalam kemaluannya yg basah sehingga
memudahkan kemaluanku untuk bergerak. Kutarik kemaluanku dgn perlahan-lahan
membuatnya menggeliat dalam kenikmatan yg belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Makin kupercepat kocokanku. Tiba-tiba badan Karina menggeliat dgn liar dan mengerang
dgn keras. Kemudian badannya kembali melemas dgn nafas yg memburu. Kurasakan
kemaluanku bagai disemprot oleh air hangat. Rupanya Karina sudah ejakulasi.Kucabut
kemaluanku dari kemaluannya. Terlihat ada cairan yg menetes dari kemaluannya.“Kok ada
darahnya sayg?” tanya Karina terkejut ketika melihat ke kemaluannya.“Kan baru pertama
kali”, balas Karina mesra.“Udah, nggak apa-apa. Yg penting nikmat kan sayg?” kataku
menenangkannya sambil mengeluskan kemaluanku ke mulut Nadia.Karina cuma
tersenyum dan setelah kucium bibirnya, aku pindah ke Nadia. Sambil mengambil posisi mengangkang di atasnya, kudekatkan kemaluanku ke mulutnya. Kusuruh mengulum
sebentar. Lalu kuletakkan kemaluanku di antara belahan buah dadanya.Kemudian
kudekatkan kedua buah dadanya sehingga menjepit kemaluanku. Begitu kemaluanku
terjepit oleh buah dadanya, kurasakan kehangatan.“Ooh… Nadia, hangat sekali. Seperti
kemaluan”, kataku sambil memaju-mundurkan pinggulku.Nadia tertawa kegelian. Tapi
sebentar kemudian yg terdengar dari mulutnya cumalah desahan kenikmatan. Setelah
beberapa saat mengocok kemaluanku dgn buah dadanya, kutarik kemaluanku dan
kuarahkan ke mulut bawahnya.“Dimasukin sekarang ya?” kataku sambil mengusapkan
kemaluanku ke bibir keperempuanannya.Kusuruh Nadia lebih mengangkang. Kupegang
kemaluanku dan kemudian kumasukkan ke dalam keperempuanannya. Dibanding Karina,
kemaluan Nadia lebih mudah dimasuki karena lebih lebar. Kedua jarinya membuka
keperempuanannya agar lebih gampang dimasuki.Sama seperti kakaknya, Nadia sempat
mengerang kesakitan. Tapi rupanya tidak begitu dipedulikannnya. Kenikmatan hubungan
seks yg belum pernah dia rasakan mengalahkan perasaan apapun yg dia rasakan saat
itu.Kupercepat kocokanku.“Aahh… aahh… aacchk… Kak terus Kak… ahh… ahh…
mmh… aahh… Nadia udah mau ke… keluar.”Mendengar itu, semakin dalam kutanamkan
kemaluanku dan semakin kupercepat kocokanku.“Aahh… Kak… Nadia keluar! mmh…
aahh… ahh…” Segera kucabut kemaluanku.Dan kemudian dari bibir kemaluannya
mengalir cairan yg sangat banyak.“Nadia, nikmat khan?” tanyaku sambil menyuruh Fanny
mendekat.“Enak sekali Kak. Nadia belum pernah ngerasain yg kayak gitu. Boleh kan
Nadia ngerasain lagi?” tanyanya dgn mata yg sayu dan senyum yg tersungging di
bibirnya.Aku mengangguk. Dgn gerakan lamban, Nadia pindah mendekati Karina. Yg
kemudian disambut dgn ciuman mesra oleh Karina.“Nah, sekarang giliran kamu”, kataku
sambil merangkul pundak Fanny.Kemudian, untuk merangsangnya kembali, kurFannykan
badanku dan kumainkan buah dadanya. Bisa kudengar jantungnya berdegup dgn
keras.“Fanny jangan tegang ya. Rileks aja”, bujukku sambil membelai-belai kemaluannya
yg mulai basah.Fanny cuma mengangguk lemah. Kubaringkan badanku. Kubimbing Fanny
agar duduk di atasku. Setelah itu kuminta mendekatkan kemaluannya ke mulutku. Setelah
dekat, segera kucium dan kujilati dgn penuh nafsu. Kusuruh tangannya mengocok
kemaluanku.Beberapa saat kemudian,“Kak… aahh… ada yg… mau… keluar dari memiaw
Fanny… aahh… ahh”, erangnya sambil menggeliat-geliat.“Jangan ditahan Fanny. Keluarin
aja”, kataku sambil meringis kesakitan.Soalnya tangannya meremas kemaluanku keras
sekali. Baru saja aku selesai ngomong, kemaluannya mengalir cairan hangat.“Aahh…
aachk… nikmat sekali Kak… nikmat…” jerit Fanny dgn tangan meremas-remas buah
dadanya sendiri.Setelah kujilati kemaluannya, kusuruh dia jongkok di atas kemaluanku.
Begitu jongkok, kuangkat pinggulku sehingga kepala kemaluanku menempel dgn bibir
kemaluannya. Kubuka kemaluannya dgn jari-jariku, dan kusuruh dia turun sedikitsedikit.Kemaluannya sempit sekali. Maklum, masih anak-anak. Kemaluanku mulai masuk
sedikit-sedikit. Fanny mengerang menahan sakit. Kulihat darah mengalir sedikit dari
kemaluannya. Rupanya selaput daranya sudah berhasil kutembus.Setelah setengah dari
kemaluanku masuk, kutekan pinggulnya dgn keras sehingga akhirnya kemaluanku masuk
semua ke kemaluannya. Hentakan yg cukup keras tadi membuat Fanny menjerit
kesakitan. Untuk mengurangi rasa sakitnya, kuraba buah dadanya dan kuremas-remas
dgn lembut.Setelah Fanny merasa nikmat, baru kuteruskan mengocok kemaluannya.
Lama-kelamaan Fanny mulai menikmati kocokanku. Kunaik-turunkan badannya sehingga
kemaluanku makin dalam menghunjam ke dalam kemaluannya yg semakin basah.
Kubimbing badannya agar naik turun.Beritaseks“Aahh… aahh… aachk… Kak… Fanny…
mau keluar… lagi”, katanya sambil terengah-engah.Selesai berbicara, kemaluanku
kembali disiram dgn cairan hangat. Bahkan lebih hangat dari kedua kakaknya.Begitu
selesai ejakulasi, Fanny terkulai lemas dan memelukku. Kuangkat wajahnya, kubelai
rambutnya dan kulumat bibirnya dgn mesra. Setelah kududukkan Fanny di sebelahku,
kupanggil kedua kakaknya agar mendekat.Kemudian aku berdiri dan mendekatkan
kemaluanku ke muka mereka bertiga. Kukocok kemaluanku dgn tanganku. Aku sudah
tidak tahan lagi. Mereka secara bergantian mengulum kemaluanku. Membantuku
mengeluarkan air mani yg sejak tadi kutahan. Makin lama semakin cepat. Dan
akhirnya,crooottt… croott… creet… creet! Air maniku memancar banyak sekali.Membasahi
wajah kakak beradik itu. Kukocok kemaluanku lebih cepat lagi agar keluar lebih banyak.
Setelah air maniku tidak keluar lagi, ketiganya tanpa disuruh menjilati air mani yg masih
menetes. Lalu kemudian menjilati wajah mereka sendiri bergantian.Setelah selesai,
kubaringkan diriku, dan ketiganya kemudian merangkulku. Fanny di kananku, Nadia di
samping kiriku, sedangkan Karina tiduran di badanku sambil mencium bibirku.Kita
berempat akhirnya tertidur kecapaian. Apalagi aku, sepanjang pengalamanku
berhubungan seks, belum pernah aku merasakan yg senikmat ini. Dgn tiga orang gadis,
adik kakak, masih perawan pula semuanya.