
.gif)
MEGA123-KISAH NYATA,Papi ultah kemarin mengahadiahkanku sebuah mobil,aku bersyukur banget dengan itu aku bisa ajak datingdating cewek kampus donk. Oke next time papi berpesan agar aku membagi waktu dalam soal apapun biar
kul ku tidak terbengkalai.Indahnya semua ini ibarat berada dalam sebuah mimpi’padahal memiliki mobil
adalah mimpiku tapi sekarang jadi kenyataan bersyukur banget Pada Tuhan.
Ah gak usah bagi-bagi info mobil baruku langsung aja nih aku akan bercerita tentang pengalaman hot yang
pernah terjadi pada masa remajaku.Sebelumnya, perkenalkan namaku Jhon, umur ku 21 tahun masih
tergolong muda, Coba-coba mengasah dalam karya tulis siapa tahu dan ini adalah pertama kalinya aku
mengirim cerita di sini, sebagai sharing untuk teman-teman yang ada di Cerita sex Aku adalah seorang warga
keturunan, saat ini aku sedang kuliah di sebuah PTS di Jakarta. Tinggi badanku 180 cm, berat badan ku 67 kg.
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Mohon maaf jika bahasanya ada yang tidak tepat, karena aku
belum berpengalaman dalam bercerita, dan kosakataku dalam berbahasa juga kurang, tapi semoga temanteman masih mengerti maksud dari ceritaku ini. Jika ada saran atau kritik tolong email saya.
Pengalaman ini kualami baru 2 bulan yang lalu, dan ini merupakan pertama kalinya aku melakukan hubungan
badan dengan seorang wanita. Tepatnya dengan seorang tante, panggil saja namanya Tante Nad, dia seorang
janda yang ditinggal mati suaminya sekitar 4 tahun yang lalu, umur Tante Nad sekarang 31 tahun,
mempunyai seorang anak yang masi kecil. Dia sebenarnya sering sekali datang ke Jakarta, dan memang
mempunyai sebuah rumah disini, serta mempunyai seorang anak angkat yang juga merupakan anak dari
kakaknya. Namanya Fandri, dia juga sedang kuliah dan tinggal di kos yang sama denganku, tapi dia lebi
muda dariku 2 tahun. Kami lumayan akrab, sehingga kami sering keluar atau pergi jalan bersama.
Perkenalanku dengan Tante Nad, adalah ketika kunjungannya ke Jakarta, karena sebenarnya dia berasal dari
Kalimantan. Pada waktu itu, aku diajak makan siang bersama oleh Fandri, dan katanya ada tantenya yang
datang ke Jakarta bersama anaknya. Fandri berjanji untuk bertemu tantenya di sebuah mall yang cukup
terkenal di Jakarta. Setelah menunggu selama hampir setengah jam, akhirnya kami bertemu dengan tantenya.
Pertama kali melihat tantenya, pandanganku seperti tidak bisa ketempat lain lagi. Aku begitu terpesona
melihat penampilannya, begitu rapi, cantik dan sexy.
Mukanya yang putih dan mulus, rambutnya yang panjang terurai, membuatnya terlihat begitu merangsang,
serta tubuhnya yang langsing, pinggang yang ramping, dan ukuran tubuh yang tidak terlalu tinggi, mungkin
sekitar 160cm. Dadanya yang montok, besar dan kencang, mungkin sekitar 34D, ditambah lagi dengan
memakai kemeja putih ketat dengan kancing bagian atas yang dibuka, sampai buah dadanya yang besar itu
terlihat begitu indah dan montok, tampak menyembul, seperti mau keluar dari pakaiannya.
Pantatnya yang bulat dan kecil itu, terlihat begitu padat. Adik kecilku bahkan sempat menegang , karena
melihat keseksian, keindahan, kemontokan tubuhnya, bahkan cara jalannya yang terlihat seperti di catwalk
Dalam diriku tidak berhenti memuja tubuh yang sangat seksi itu, dan betapa nafsu laki-laki aku muncul,
karena itu kali pertamanya aku melihat pemandangan yang begitu merangsang. Jujur saja, aku sangat
pengen meremas-remas dada dan pantatnya itu, tangan ku sudah gatal rasanya. Tapi aku masi bisa
menahannya..
Setelah itu kami saling berkenalan, tangannya yang kecil itu begitu lembut. Dan dilanjutkan dengan makan
siang bersama, kami berbincang-bincang dan menjadi dekat, karena Tante Nad orangnya gaul, jadi semua
pembicaraan kami terasa nyambung. Selesai makan, kami diantar pulang ke kos oleh Tante Nad. Sayang
sekali aku tidak menanyakan no hpnya. Setalah hari itu, kami makin sering bertemu, karena Tante Nad sering
mengajak kami pergi makan dan jalan-jalan. Dan aku menjadi semakin menginginkan untuk menikmati
tubuhnya itu. Tante Nad sering telpon-telponan denganku, kadang hanya untuk ngobrol saja, tapi Tante Nad
lebih sering menelponi aku daripada anak angkatnya. Bahkan sempat dia memintaku untuk menjadi anak
angkatnya, tapi aku hanya menganggapnya basa-basi saja
Tak terasa sudah berapa kali kami bertemu, dan akhirnya aku menjadi benar-benar akrab dengan Tante Nad..
dan Tante Nad mengajaku untuk menginap ditempatnya. Semula aku menolak, tapi Tante Nad tetap
memaksa seperti anak yang manja, akhirnya aku terima ajakannya. Aku hanya pura-pura menolak, tapi
sebenarnya aku mau menginap ditempatnya.
Malam itu, aku dan Tante Nad duduk-duduk di lantai teras rumahnya di lantai paling atas. Angin malam yang
menyejukkan, dan suasana yang tenang, membuat kami merasa lebi santai. Ketika itu anak-anaknya sudah
tidur.
Karena aku dan Tante Nad sudah akrab, maka aku memberanikan diri bertanya-tanya sesuatu yang
“nakal”.
“tante ngga ngerasa kesepian, kalau malem-malem ga ada yang temenin tidur.. hehe..”, candaku pada Tante
Nad..
sebelumnya Tante Nad tampak terdiam tidak mau menjawab, hanya tertawa kecil, tapi akhirnya,
“Nakal juga kamu ya..”
“emang sih kesepian.. tapi mau gimana.. ga ada yang menghibur.. “, lanjutnya dengan sedikit mengeluh.
“hahaha.. kalau tante bole.. aku mau menghibur tante..”, candaku lagi.
“haha.. emangnya kamu bisa apa.. belum ada pengalaman, trus ntar malah tante yang kecewa..”, tanyanya,
sambil memancingku
“iya.. tapi setidaknya aku pernah liat dan tau cara-cara ama posisi-posisi nya..”, candaku dengan sedikit
menantang.
“yuk masuk aja.. tambah dingin aja nih di sini..”, ajaknya dan mengubah topik. Dan kami pun masuk kedalam.
Tante Nad memintaku mengunci pintu, setelah selesai menguncinya, ternyata Tante Nad masih berdiri di
sana. Kami saling bertatapan, cukup lama, tapi tidak berbicara satu katapun. Pikiran ku mulai kacau, dan
berpikir yang tidak-tidak. Benar saja, tiba-tiba Tante Nad memegang kedua tanganku, dan dengan senyuman
nakal menarikku ke sebuah kamar, kamar yang disediakannya buatku selama aku menginap di tempatnya.
Aku didorong ke ranjang, dan terduduk diatas ranjang yang lebar itu.
Tante Nad langsung saja mendatangiku, meloncat dan duduk diatas pahaku, kedua tangannya memegang
erat rambut belakangku. Dan dengan tiba-tiba tatapan matanya berubah menjadi tatapan nafsu yang sangat
besar.
“Tunjukin ke tante kalau kamu emang tau cara-caranya..”, setelah itu langsung saja dia mencium bibirku
dengan buasnya, tangannya yang memegang kepalaku bergerak-gerak memegangi dan menjambaki dengan
kuat seluruh rambutku.
Tubuh kami bergerak maju mundur mengikuti gerakan kepala kami. Lidahnya bergerak-gerak dengan cepat
di dalam mulutku, aku membalasnya dengan menggerak-gerakan lidahku juga. Ternyata saat itu aku baru
sadar bahwa nafsu seks Tante Nad ternyata besar sekali, dapat kulihat dari caranya, bagaimana Tante Nad
ingin melumat lidahku. Ketika lidahku masuk dan meraba-raba rongga mulutnya, giginya mengigit-gigit dan
mengisap-isap lidahku seperti mau menelannya bulat-bulat, kami seperti sedang bermain pedang-pedangan
dengan lidah didalam mulut kami.
Aku sudah tidak berpikir apa-apa lagi, kecuali malam ini aku harus menikmati tubuh Tante Nad sampai puas,
akan kulampiaskan semua nafsuku yang tertahan selama ini pada Tante Nad.
“emmm.. emmmm.. ssshhh..aaahh.. ssshh.. aaahh..”, suaranya mendesah.
Ketika sekali-sekali Tante Nad mengigit bibir bawahku, aku gigit pula bibir atasnya. Begitu juga ketika Tante
Nad mengigit bibir atasku, maka aku menggigi bibir bawahnya.
Kupegang kedua pahanya, kuleus-elus bagian dalam serta luarnya, sampai akhirnya aku menaikan kedua
tanganku dan mencengkram sekuat-kuatnya kedua pantatnya yang bulat itu..
Tangan kananku memeluk erat-erat pada pinggangnya yang ramping itu, sampai buah dadanya itu terjepit
diantara tubuh kami. Karena aku ingin merasakan kedua buah dadanya menempel didadaku, Begitu besar,
begitu empuk, dan betapa dapat kurasakan kedua putingnya mengeras di dadaku.
Tangan kiriku tetap memegang kedua pantatnya itu, kumasukkan tanganku kedalam celana karetnya,
berulang kali aku meremas-remas pantatnya itu dengan kuat-kuat, lalu kuelus-elus dan kuraba-raba,
“aaahh..”, suara itu yang sangat ingin aku dengar dari mulutnya
Akhirnya kumasukkan jari-jariku kedalam belahan kedua pantatnya. Dengan jari-jariku dapat kurasakan
hangat disekitar lubang pantatnya itu. Aku bermain-main dengan jari-jariku dan aku gelitik-gelitik luang
duburnya itu, dan terasa tubuhnya berkejut-kejut kegelian, tangan kanannya
memegang kuat-kuat pergelangan tangan kiriku untuk menahan rasa geli jari-jariku di duburnya. Jariku dapat
merasaka bagaimana duburnya mengejang kegelian
Setelah cukup lama kami berciuman, Tante Nad melepaskan bibirku, lalu dia berdiri dan membuka baju,
celana dan CDnya. Dan kulihat pemandangan yang begitu menakjubkan ketika Tante Nad mengangkat kedua
tangannya, dadanya yang besar itu ikut terangkat, lalu turun dan begoyang-goyang, ahh… betapa
beruntungnya aku dapat melihatnya dengan begitu dekat.
Aku tidak malu-malu lagi, maka kulepas juga semua pakaianku, sampai kami benar-benar telanjang bulat.
Aku tak sempat melihat semua bagian tubuhnya, tapi yang pasti bulu-bulu di sekitar mem*k Tante Nad itu
telah dicukur habis, membuat mem*knya terlihat lebih bersih dan lebih
segar. Adikku sudah mencapai 80%.
“dicukur tante..?”, tanyaku, Tante Nad hanya membalas dengan senyuman dan tidak berkata apa-apa.
Setelah itu kami lanjutkan lagi ciuman kami, semakin lama mulut kami semakin penuh dengan ludah kami
yang telah bercampur, begitu kental, begitu nikmat, dan begitu banyak sampai menetes keluar dari sela-sela
mulut kami, dan sampai aku merasa seperti sedang meminum segelas air ludah kenikmatan bersama-sama
Tante Nad.
Tiba-tiba Tante Nad menyedot semua ludah-ludah itu kemulutnya dan melepas mulutku. Dengan tatapan
mata dan senyuman yang nakal, Tante Nad mengeluarkan air ludah itu, membiarkannya mengalir seperti air
terjun, dari mulutnya ke dagunya, lehernya, membasahi dadaku dan dadanya, dan akhirnya turun sampai ke
pangkal paha kami, membuat gesekan tubuh kami terasa menjadi lebih licin. Melihat itu, mulai kuarahkan
kepalaku untuk menjilati air ludah, tapi tidak kutelan, mulai dari sudut-sudut bibirnya, lalu dagunya, lehernya,
betapa air ludah itu terasa lebih nikmat, karena telah bercampur dengan keringat Tante Nad.
Kubungkukkan badanku sedikit, sehingga mendorong tubuh Tante Nad sedikit kebelakang, dan akhirnya
mukaku sampai tepat didepan dadanya,“besar banget tante..”, kataku spontan, aku tidak melihat matanya, tapi aku tahu kalau dia tertawa gembira
Kubaringkan badanya ke ranjang, Tante Nad dibawah dan aku diatas menindihnya. Lalu kuciumi, kusedotsedot dan kugigit-gigit kecil puting susunya, tanganku meremas dadanya yang lain, jariku secara refleks
mulai memutar-mutar dan mencubit-cubit kecil puting susunya.
“aaahh..”, desahnya..
Kubuka mulutku selebar-lebarnya dan dengan sedikit memaksa aku mencoba “memakan” dadanya sebanyak
mungkin. Aku ingin “menelan” semua dadanya. Kuremas, Kugigit, kujilat dan kusedot, semua itu kulakukan
berulang-ulang kali sampai aku puas.
“ssshhh..aahhh..aah..aah..”, desahannya semakin membuat nafsuku menggebu-gebu.
Setelah puas dengan dadanya, aku mulai turun menciumi perutnya, menjilat-jilat pusarnya, kedua tanganku
tetap memegangi dadanya, tangan Tante Nad tetap memegang kepalaku, mengikuti kemana kepalaku
bergerak.
Akhirnya aku sampai di depan mem*knya, yang ternyata sudah basah, aku mencium bau harum dan lembut
dari mem*k dan disekitar pangkal pahanya.
Aku sudah tidak tahan lagi, langsung saja kujilat dan kugigit-gigit kecil klit nya, aku memainkan lidahku
dengan cepat di duburnya, naik-turun dari pantat ke klitnya, berulang-ulang sampai daerah itu basah oleh
ludahku.
“uuuuuuuuuuhhhh………..”, suara desahannya yang rendah, dan semakin kuat Tante Nad menjambak
rambutku.
Kujilati mem*k nya seperti sedang menjilat es krim, es krim yang tidak akan pernah habis. Setelah itu aku
belutut di ranjang dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, sehingga kedua lututnya berada di dekat dengan
kepalanya, selama dalam posisi kepala dan kaki dibawah tapi pantatnya terangkat seperti itu, kedua
tangannya hanya bisa memegang pantatnya, menarik kekanan dan kekiri, sehingga lubang memeknya dan
lubang pantatnya dapat kulihat dengan jelas. Tangan kiriku memegang perutnya, dengan badan kutahan
punggungnya supaya posisinya tidak berubah. Dan dengan jari tengah serta telunjuk tangan kanan,
kumasukkan kedalam memeknyanya, kedua jariku bermain-main, berputar kiri-kanan, dan keluar masuk di
lobang memeknyanya.
“aaaahh… aaaahh..aaaahhh.. eennaaaakkk…”, kata Tante Nad sambil memejamkan mata, membuatku semakin
bersemangat memainkan memeknyanya “jangan berhentii…. trussss…. aaaahh…”.
Setelah cukup lama aku bermain-main dengan mem*knya, akhirnya tubuh Tante Nad seperti kejang-kejang,
dan bergerak-gerak dengan cepat serta kuat, sampai aku sedikit kewalahan menahan posisinya.
“aaaah.. aaaa..aaaaaaaaaaaaahh..”, kata Tante Nad, sembari tubuhnya mengejang-ngejang,
lalu keluar cairan putih kental yang cukup banyak dari dalam memeknyanya, membasahi tanganku dan
daguku, dan menyebar ke dadaku dan perutnya, aku tidak tahu cairan apa itu, baunya pun tidak begitu
sedap.
“haahhh.. hahhh.. hahhh..hahhhh..”, suaranya kecapekan, disertai keringat yang bercucuran dan tubuhnya
mulai melemas.
Tangannya pun jatuh terkulai keranjang, Tante Nad terlihat seperti orang yang sudah KO.
“Jilatin jhonnn… jilatin yaaaaa.. sampe bersih…”, kata Tante Nad dengan manja..
Semula aku tidak mau, tapi setelah mendengar permintaan manja Tante Nad, akhirnya kulakukan juga.
Padahal kont0lku saja belum kumasukan kedalam memeknyanya, tapi Tante Nad sudah kecapekan. Tapi aku
juga sebenernya sudah kecapekan berada di posisi seperti itu, tanganku sudah pegal-pegal, tapi nafsu dan
semangatku masih besar, karena aku belom puas, jadi tidak boleh putus di tengah jalan.
“haaahh.. Jhonnn.. jari kamu bener-bener nakal..”, katanya terengah-engah.
“sini Jhonnn..”, panggilnya sambil menarik kepalaku mendekat ke mukanya.
Dengan begitu aku menindih badannya, dadanya yang besar itu mengganjal tubuhku, dan kubiarkan juga
kont0lku terjepit diantara tubuh kami. Aku dapat merasakan detak jantungnnya, desahan nafasnya yang telah
kecapekan. Kedua tangannya melingkar memeluk leherku, kakinya juga melingkat dan melipat di
punggungku. Tanganku memegang pinggangnya, meraba-raba dari atas ke bawah, dan satunya lagi
mengelu-elus rambutnya yang panjang dan terurai itu. Tubuhnya benar-benar dibasahi oleh keringat. Aku
sengaja menggerakkan tubuhku maju-mundur, sengaja membuat kont0lku yang masih tegang itu
mengosok-gosok mem*knya, sengaja kuraba-raba pinggiran dadanya yang ikut berbergerak maju mundur,
kulakukan supaya dapat membuatnya bernafsu lagi.
“Jhonn, tante suka banget cara lu ngobokin memeknya tante..”, kata Tante Nad memjuaku.
“jadi gimana.. tante puas ga..”, tanyaku.
“puas banget.. baru begitu aja tante uda kecapekan..”, katanya sambil memegang pipiku dan menatap
mataku dalam-dalam
“tapi tenang aja.. tante masi kuat kok..”, lanjutnya menggoda.
Tanpa banyak bicara lagi, langsung saja aku mencium bibirnya.. Petandan mulainya ronde kedua.
“hhmmmmppppp… hmmmmmpppppp.. hemmmpp…”, desahannya menjukkan bahwa Tante Nad masih
bernafsu. Perlahan-lahan aku mulai merasakan putingnya mengeras kembali didadaku, tangan dan kakinya
memeluk tubuhku dengan lebih erat.
Tampaknya memang benar, nasfu dan stamina Tante Nad sudah kembali.
Cukup berapa menit saja, dan air ludah mulai memenuhi mulut kami.
Tante Nad mendorong tubuhku kesamping, dan kamipun berganti posisi, aku dibawah dan Tante Nad diatas.
Disedotnya kembali semua air ludah itu, perlahan-lahan Tante Nad menegakkan badannya. Tante Nad pun
melakukan hal tadi, mengeluarkan air ludah itu sedikit demi sedikit ke dadaku,
perutku, lalu akhirnya membanjiri tubuhnya sendiri, air ludah itu terus turun dengan cepat sampai
membasahi kont0lku yang berada terjepit diantara bagian dalam pangkal pahanya dan tubuhku.
Dengan senyuman dan tatapan mata nakal, Tante Nad memundurkan tubuhnya, lalu membungkuk, sambil
memegang kont0lku, Tante Nad menumpahkan sisa air ludah itu ke kont0lku.
“wow.. lumayan juga punya kamu yaa…”, katanya dengan bernafsu, sambil memegang erat kont0lku.
“tadi sudah giliran kamu.. sekarang giliran tante buat kamu kecapekan..”, setelah itu, Tante Nad mulai
mengecup kepala kont0lku.
Tangan yang satunya memegang, memainkan dan menekan-nekan, bahkan kadang digenggamnya dengan
kuat buah pelirku.
“Aaah…”, kataku karena rasa nyeri di buah pelirku.
Dengan posisi kakiku yang terbuka lebar, tanpa banyak bicara lagi, Tante Nad dengan tatapan nakalnya mulai
menjilati dari pangkal batang sampai keujung kont0lku. Tanganku memegangi rambutnya, karena aku ingin
melihat pemandangan yang tak ingin aku lewati, bagaimana Tante Nad menjilati kont0lku dengan nafsunya.
Digititnya kecil ujung kont0lku, rasanya geli sekali. Dikulum-kulumnya kont0lku, dijilatnya seperti sedang
menjilat batang eskrim kenikmatan yang tidak akan pernah habis.
Sekarang giliran buah pelirku ikut di”makan”nya, dimasukkan kedalam mulutnya bersama dengan bulubuluku. Lidahnya bermain dengan cepat didalam mulutnya, sesekali pelirku seperti sedang dikunyah oleh
Tante Nad. “aaahh..”, teriakku kecil, menahan sakit.
Kont0lku sudah basah sekali oleh air ludah Tante Nad, nafsunya seperti sudah tidak tertahan lagi. Kont0lku
teraa panas gara-gara bergesekan dengan mulut dan tangannya. Kepalanya naik turun dengan cepat diikuti
dengan tangannya. Sesekali kepala kont0lku ditarik dengan kuat oleh
giginya. Geli sekali.
Cukup lama Tante Nad bermain-main dengan kont0lku, kira-kira hampir setengah jam, akhirnya aku sudah
tidak tahan lagi.
“aaaaa.. tanteeeee…”, teriakku panjang.
Mendengar seperti itu, Tante Nad makin mempercepat gerakan mulut dan tangannya. Otot kakiku sudah
mengejang menahannya, akhirnya.. crrttt.. crrttt.. keluar juga spermaku. Tante Nad tidak mengeluarkan
kont0lku dari mulutnya, dengan nafsu Tante Nad menjilati semua spermaku, tidak dibiarkannya setetespun
mengalir keluar. Semuanya ditelan tanpa sisa, bahkan kont0lku masi disedot-sedotnya. Begitu bernafsunya
sampai Tante Nad terlihat seperti wanita yang benar-benar kehausan akan spermaku. terpercaya indonesia &
aman
“aaahh.. punya kamu hangat sekali rasanya.. nikmat banget..”, kata Tante Nad.
“ha ha.. sekarang kita satu sama..”, lanjutnya dengan gembira, sambil menindih badanku.
Kami berpelukan diranjang, saling meraba-raba tubuh. Kuelus pahanya yang mulus, sedangkan Tante Nad
mengelus-elus perut dan dadaku. Kami saling bertatapan dan saling memuji.
“enak sekali tante.. tante jago banget..”, kataku, menikmati bagaimana enaknya pengalaman dioral oleh
seorang wanita cantik.
“kamu juga hebat.. tante suka de sama kamu.. bisa tahan selama itu…”, balasnya nakal.
Aku begitu lelah, rasanya sudah tidak ada tenaga lagi. Aku melihat Tante Nad, tampaknya ia juga dalam
keadaan yang sama denganku.
Tak banyak bicara, Tante Nad mengecup dahiku.
“kita bobo dulu aja ya sekarang.. tante pengen lanjut tapi lemes banget rasanya..”, katanya..
ya tante.. aku juga capek banget.. tante emang top..”, balasku.
Tampak Tante Nad tersipu malu dan tertawa kecil. Sebenernya nafsuku masih besar, tapi keadaan tubuhku
tidak memungkinkan. Aku juga tidak mau memaksa Tante Nad yang sudah sangat kecapekan.
Begitu lemas, akhirnya kami tidur berpelukan, saling menghangatkan. Kupeluk erat-erat tubuh Tante Nad
seperti sedang memeluk bantal, aku masih ingin merasakan dadanya yang besar itu. Dengan pahanya Tante
Nad mengelus-elus pahaku.
Aku merasa senang sekali mesikpun aku tidak puas malam itu.
Mulai dari keesokan harinya, aku merasa Tante Nad menjadi semakin sayang padaku. Ia memenuhi semua
kebutuhan dan keperluanku. Dalam 2 bulan terakhir ini, kami telah melakukan hubungan sex lagi sekitar 10
kali dan kami lakukan setiap ada kesempatan. Pernah kami lakukan ketika didalam mobil, dikamar mandi,
dikamar anaknya bahkan sempat diatas ranjangnya, ranjang tempat dimana Tante Nad dan almarhum
suaminya tidur