MEGA123–Nama saya Andi, saya asli anak kampung lahir di lereng pegunungan Bandung Barat (Jawa Barat). Kisah nyata ini berawal sejak saya masuk PSD1 (Pendidikan Setara Diploma) di Bandung, nama gadis itu Bella , kelahiran PB (RIAU) yang dikirim orangtuanya ke Bandung untuk menuntut ilmu.Singkat cerita setelah kenal selama kurang-lebih tiga bulan, saya dengan Bella pulang dari kuliah bareng seperti biasanya. Sebelum pulang Bella meminta saya untuk mencium keningnya (Jelas saya lakukan, saya cinta). Tiba-tiba setelah saya melangkahkan kaki beberapa langkah, tiba-tiba Bella memanggilku,
Bergabunglah Bersama HAHACUAN Cukup Dengan Satu User ID Nikmati Beragam Game Terlengkap Disini 🔥 BONUS NEW MEMBER 200% 🔥 BONUS NEW MEMBER 100% 🔥 BONUS NEW MEMBER 125% 🔥 BONUS PG-SOFT MEMBER 50% 🔥 BONUS HARIAN MEMBER 30% 🔥 FREESPIN 50% DAN BUYSPIN 35% 🔥 BONUS TURNOVER JADI SALDO 🔥 CASHBACK SLOT 5%
Minggu, 24 Maret 2024
Kisahku Ngentot Dengan Bella Wanita Asal Riau
“Andi.. kesini bentar”, langkahku terhenti dan membalikan badan untuk menghampirinya.
Serta dia berbisik
“Kedalam aja dulu yuk.., di dalam nggak ada siapa-siapa”, saya berhenti sejenak lalu
masuk. Di rumahnya hanya bertiga (Kakaknya, Bella, dan Adiknya). Kemudian saya
dipersilakan duduk kemudian Bella berkata, “Sebentar yah saya ganti baju dulu.” 3 menit
kemudian Bella datang dengan membawa air minum dan duduk di samping saya.
Kemudian dengan sedikit keberanian saya mencium bibir Bella, dia hanya tertunduk malu
sambil berkata
“Ich.. Andi jangan gitu ach..” dan pipinya memerah menambah kecantikannya. Saya
bilang, “Bella.. kamu cantik deh kalau pipi kamu merah..” lalu Bella menyubit pas di
kemaluan, saya sedikit teriak“Aduh.. sakit donk.” Kemudian Bella langsung memegang
kemaluan saya dan berkata,“Coba saya lihat..” sambil membuka resleting celana
saya.“Jangan ach malu..” kata saya. Tanpa memikirkan hal apapun saya merelakan
kemaluanku dilihat sama Bella, Bella bilang “Bagus yah.. gede dan rada bengkok.” Saya
bilang “Bella.. kamu mau?” tanpa menjawab ia hanya merebahkan badannya di kursi panjang
tempat saya duduk, tanpa berpikir panjang saya lalu menindih dia, saya ciumi dia, saya
buka kancing bajunya dan saya buka juga BH-nya. Susunya masih kecil seukuran dengan
kepalan tangan. Saya julurkan lidah saya diputar ke kiri dan kanan, ke atas dan ke bawah
untuk memainkan puting yang masih kecil. Payudaranya semakin lama semakin mengeras
dan kepala saya semakin ditekan ke payudaranya, sambil memanggil-manggil nama saya
“Terus.. Ndi, terus Ndi.., nikmat.. sekali Ndi” dan terdengar desahan kecil
“aacchh..” barengan itu pula saya ingin ke belakang, rasanya kepingin pipis, sambil
mengangkat kepala dari payudaranya. Saya bertanya berbisik “Ech.. kamar kecilnya
dimana”, dia menjawab sambil mengangkat tangannya menunjukan arah,
“Masuk ke situ.. lurus lalu belok kanan”, tanpa berpikir panjang saya langsung lari ke
kamar kecil dan keluarlah “cairan perjaka” yang pertama. Tanpa sepengetahuan saya
Bella ternyata mengikuti dari belakang, lalu masuk ke kamar kecil itu dan bertanya sambil
melihat kemaluanku, “Ndi.. kamu kok tiba-tiba lari, kenapa?” Aku hanya terdiam dan aku
tak tahu apa yang terjadi, badanku terasa lemas seperti yang sudah menempuh
perjalanan jauh.BellaKemudian Bella membuka baju dan BH-nya yang sudah terlepas tadi.
“Mandi ah..” Bella bilang, tanpa rasa malu dia membuka seluruh pakaiannya di depan saya dan di gantungkannya di paku dinding kamar mandi. Kemudian saya berpikir “Apa yang
sedang saya lakukan?”, Bella dengan tiba-tiba sangat bernafsu menciumi bibir dan leher
saya, serta tangannya yang terampil mengocok kemaluan saya yang dari tadi nongol dari
resleting yang belum saya tutup sampai terasa ngilu. Tangan Bella yang sebelah kiri
memegang pundak saya dan tangan yang sebelahnya lagi tangan kanan menuntun
kemaluan saya yang tadi dikocok-kocok untuk dimasukan ke dalam vaginanya. Bella
berbisik, “Ndi.. kok nggak masuk-masuk..”, saya bilang
“Nggak tahu atuh, saya nggak bisa memasukannya, kayaknya terlalu sempit nih..” Lalu
Bella berbisik
“Kita pindah aja yuk kekamar, biar nggak susah”, sebelum kaki melangkah kami dikejutkan
oleh bunyi bel pintu depan “Ding-Dong” (Waduh kagetnya minta ampun, jantung rasanya
nggak karuan). Kami berdua saling bertatapan sejenak, kemudian dengan spontan Bella
meraih baju, BH serta CD-nya yang digantung di paku, saya langsung lari ke depan untuk
membuka pintu, ternyata yang dateng orangtuanya dari Riau (kakaknya ternyata jemput
orangtuanya dari Airport). Pas buka pintu langsung kakaknya bertanya, “Dimana si Bella,
kok nge-bel dari tadi nggak di buka-buka pintunya, lagi pada ngapain sih kalian?” Saya
menjawab “Dari tadi Bella ada dibelakang, saya disini.. lalu Bella teriak meminta agar saya
membukakan pintunya, maafkan saya kak.., karena saya selaku tamu di sini tidak ada hak
untuk membuka pintu tanpa seizin tuan rumah. Dan saya kira tadi bukan kakak, jadi tidak
saya buka.” Kemudian sambil masuk ke dalam kakaknya bergumam
“Ah.. dasar kamu pintar cari alasan.” Setelah itu orangtuanya Bella berbincang-bincang
dengan saya (Interogasi), tanya asal-usul, orangtua, pekerjaan orangtua, rumah, pokoknya
segalanya. Dan saya jelaskan semuanya, saya di Bandung ini sejak masuk SMP (yah..
inilah nasib anak kampung). Kemudian terdengar suara ibunya memarahi Bella, “Ngapain
kamu pacaran sama anak kampung gitu.., mau diberi makan apa kamu sama dia,
pokoknya Mama nggak setuju kamu berhubungan sama dia.” Beberapa menit kemudian
Bella datang dengan mata berkaca-kaca, merah tanda mau menangis dan ia meminta
saya untuk meninggalkan rumah itu.
Tidak banyak berkata saya langsung pulang tanpa pamit dan saya mengerti, serta
mendengar apa yang ibunya bilang. Waktu itu menjelang pukul 18:00, aku pulang ke
rumah dengan 1001 pikiran dan pertanyaan, mengapa hal ini terjadi pada saya? Di tempat
tidur kira-kira pukul 19:25 saya melamun memikirkan apa yang sudah saya alami siang
tadi. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu sambil mengucapkan “salam”, dalam pikiranku
“perasaan saya hafal suara itu” pas saya buka ternyata Bella datang dengan wajah dan
rambut lusuh dibasahi dengan keringat dan air mata, kemudian tanpa banyak bicara saya
peluk, saya cium keningnya dan saya minta untuk menceritakan kenapa bisa begini.
Sambil tersedu-sedu Bella menjelaskan semuanya, bahwa setelah saya pulang Bella
bertengkar hebat dengan orangtuanya, lantas ia minta izin untuk tidur di rumah temannya
yang bernama Wiwik (bukan nama sebenarnya, yang sudah ia hubungi). Jika ortunya
telepon bilangin Bella ada disini, tapi sudah tidur, padahal sebenarnya Bella ke rumah
saya “Dengan dalih nginap dirumah Wiwik.” Kemudian saya siapkan air hangat, saya bikin
nasi goreng dan saya siapkan juga baju piyama (maklum saat itu ortu masih di kampung dan rumah itu hanya cukup buat sendiri, jadi apa-apa melakukan sendiri). Kemudian kami
makan nasi goreng yang saya buat, lalu Bella mengeluarkan air mata lag
Saya bilang, “Sudah dong ah.., jangan nangis lagi..” lalu Bella berkata
“Ndi.., saya minta maaf atas omongan dan perlakuan orang tua saya terhadap kamu tadi
siang.”Ngentot Dengan Bella Saya bilang, “Walaupun saya marah sama orang tua kamu,
tapi kalau melihat kamu senyum saya nggak bisa marah lho..” sambil sedikit merayu.
Sampailah pada pukul 21:00, kita berdua pergi ke kamar rasanya lelah sekali, saat itu
Dunia Dalam Berita, Bella meminta saya untuk memeluknya dan berkata “Ndi.. apa yang
bisa membuat kamu percaya bahwa saya betul-betul sayang sepenuhnya sama kamu”,
lalu saya berkata berikanlah “kesucian” kamu, setelah kau berikan baru saya akan
percaya. (Perlu pembaca ketahui, bahwa saya belum pernah mencium “bau” wanita
sebelumnya, mungkin karena saya tertutup atau karena saya masuk STM (Sekolah Teknik
Menengah)dan teman-teman saya tidak ada perempuannya, hanya omong yang besar
yang ada kalau membicarakan masalah wanita). Tapi setelah permintaan itu Bella hanya
berdiam saja, tanpa banyak komentar saya pegang payudaranya, kemudian saya buka
kancing baju piyamanya serta celana dan CD-nya. Bella seolah-olah pasrah dengan apa
yang saya lakukan, kemudian saya mengulangi yang siang tadi saya lakukan. Saya hisap
puting payudaranya, kemudian saya mainkan dengan lidah, lalu menyusuri leher, perut, tali
pusar terus sampai bawah ke “hutan homogen” yang belum begitu banyak tumbuh bulu.
Dia tertawa manja sambil memanggil, “Ndi.. jangan geli Ndi.., ih.. Andi.. kamu apa-apaan
geli ah..” Saya berhenti sejenak dan saya tatap matanya yang penuh gairah, lalu saya
berkata “Tapi kamu suka kan..” ia cuma mengangguk sambil tersenyum.
Lantas saya lebih gila, saya jilati daging yang ada di dalam bibir memek yang sempit itu,
Bella semakin ganas dan liar, dengan keras ia mendorong-dorong kepala saya ke lubang
memek sambil menikmati jilatan lidahku. Lalu Bella memintaku untuk memasukan penisku
ke dalam memeknya, kemudian aku membuka celana dan CD, aku berikan penis yang
lumayan gede dan agak bengkok ketangan Bella lalu di masukannya penisku ke
vaginanya. Mulanya susah masuk, tapi atas kegigihan dan bantuan tangan Bella akhirnya
bisa masuk “Blessh” terdengar sedikit rintihan Bella
“Sakit Ndi.., sakit.” Saya berpikir “Baru saja 1/2 yang masuk sudah begini.., bagaimana
kalau semuanya masuk”, kemudian aku perlahan-lahan menaik-turunkan pinggangku
berkali-kali, sambil memasukan penis saya lebih dalam lagi, tidak terdengar rintihan hanya
bisikan-bisikan mesra yang meminta agar saya memperdalam tusukan kontolku, saking
begitu nikmatnya Bella memejamkan kedua matanya dan meminta lebih dalam lagi “Ndi..,
terus Ndi.., lebih dalam lagi.., terus..” beberapa saat kemudian terasa badan saya
mengejang dan saya memeluk tubuh Bella, tiba-tiba mata Bella terbuka dan bertanya,
“Ada apa Ndi.., kok kamu berhenti.. eh.. apa ini, kok terasa seperti ada yang menembak
didalam memek ku Ndi”, lalu dia berkata lagi
“Ndi.., tapi nikmat terusin dong.., ayo dong..” Kemudian saya coba untuk mengangkat
penis saya tapi terasa ngilu sekali sampai saya nyengir. Bella bertanya, “Ndi.. kenapa,
sakit?” Aku jawab
“Tidak..” Dan aku mulai menaik-turunkan pinggang untuk melanjutkan permainan
walaupun ada rasa ngilu. Beberapa menit Bella meminta mempercepat tempo gerakan
“Cepatin dikit..” sambil memegang pantatku dan akhirnya ia mengejang kurang lebih 6
detik sambil memeluk erat badan saya dan melepaskan nafas yang sepertinya tertahan
dari tadi, perasaan lemas dan ada sesuatu yang sepertinya membuat aku menyesal, tapi
apa yah (saya berpikir) apakah karena saya telah melakukan ini atau ada perasaan takut?
Akhirnya kami tertidur lelap, pagi harinya setelah kami mandi kemudian sarapan dan
bersiap-siap berangkat ke kampus, Bella memberitahukan bahwa dirinya telah dijodohkan
oleh ortunya di Riau dengan anak pengusaha. Katanya “Ndi.., aku betul-betul minta maaf
ya, bukan maksud Bella mau menyakiti kamu, karena setelah kuliah kita nanti selesai,
mungkin kita tidak akan bertemu lagi sebab, aku harus kembali ke Riau dan menikah
dengan lelaki pilihan ortu Bella.” Waktu itu juga aku seperti tidak ada tenaga, lemas,
menyesal campur marah. Saya menangis dan berkata, “Mengapa.., Bella.., mengapa kau
lakukan ini semua, kalau seandainya aku tahu kamu sudah dijodohkan dengan pilihan ortu
kamu, aku tidak akan menyentuh bahkan tidur dan melakukan di luar batas-batas
kewajaran dengan kamu? lantas apa yang harus aku lakukan.” Dia menjawab dengan
berlinang air mata “Ndi.., aku sayang sama kamu.., aku rela Kegadisanku diberikan
kepadamu dan aku bangga bisa memberikan sesuatu yang berharga pada diri aku dan
berarti untuk orang yang aku sayangi dan cintai, aku mohon setelah kejadian ini kamu
harus bisa melupakan aku, waktu semalam aku kan bertanya, apa yang membuat kamu percaya bahwa aku sayang sama kamu, kamu kan yang mengiginkan semua ini?” Aku
bantah,
“Tapi kenapa kamu tidak bilang bahwa kamu sudah dijodohkan dengan orang kaya pilihan
ortu kamu?” Ia jawab lagi, “Pokoknya kamu tenang saja Ndi.., dan aku juga sekarang akan
berusaha untuk melupakan kamu kok..? izinkanlah aku untuk pergi. Aku mau pulang
sekarang”, aku tidak menjawab, ia mencium bibir saya dan berkata “Aku sayang kamu
kok” aku bentak Bella
Jika kamu sayang.., tinggalah bersama aku.” Bella tersenyum manja dan berkata
“Jika aku menikah dengan kamu.., kamu mau memberi makan apa..” Rupanya Bella
memancing supaya aku benci dan kesal terhadap dia, tapi aku nggak bisa marah, hanya
menangis, lalu ia duduk dan berkata lagi
“Maafkan aku Ndi.., bukan itu masalahnya.., bukan kamu nggak bisa memberi makan dan
aku yakin serta percaya kamu bisa membahagiakanku, tapi yang jadi tujuan utama hidup
aku, aku hanya ingin membahagiakan orang tuaku, biarlah aku berkorban, walaupun kita
melanjutkan hubungan kita ini dan tanpa restu orang tua.., pasti kita tidak akan bahagia.
Sejak itu saya sadar, hatinya memang suci, ingin membahagiakan kedua orang tuanya
dan menikah dengan “lelaki kaya” serta ia rela berkorban walau harus kehilangan
“mahkotanya” demi seseorang yang sayanginya. Para pembaca sekalian.., itulah kisah
nyata yang menimpa saya sebagai anak kampung.. Cerita ini dulu saya alami 4 tahun
yang lalu. Dan kemarin bulan September 1999, saya dengar dari teman bahwa dia
melahirkan seorang bayi perempuan dan kenangan saya sewaktu bersamanya terbayang
kembali. Ingin saya menengok Bella, tapi saya takut merusak kebahagiaan rumah tangga
mereka. Saya merasa bersalah, merasa dibohongi, saya merasa ditipu. Mungkin setelah
saya berbagi kisah nyata ini, beban dan rasa bersalah saya bisa sedikit berkurang

.gif)