MEGA123–Tante Cantik ini berusia 37 tahun bernama Yeni, memiliki paras wajah yang sangat cantik dipadu dengan body yang aduhai seksinya, ditambah payudaranya mulus berukuran 36A. Siapa yang tak tergoda dengan tante Yuli ini, seorang wanita pengusaha yang sangat kaya raya rambut lurus seta tante ini sangat kaya raya yang sudah dikaruniai 2 orang anakAwal Cerita Tante – setelah aku menyelesaikan program mini marketnya, aku mengantarkannya ke rumahnya yang hanya berjarak sepuluh menit dari rumahku. Tante Yeni tidak ada dirumah. Aku menunggunya sampai dia datang sambil ngobrol ditemani pembantunya.Setelah hampir satu jam aku di sana, Tante Yeni pulang. Kulihat dia agak heran melihatku bermain-main dengan Cynthia dan mengobrol santai dengan Mbak Ning.“Kau bawa programnya ya? Ada petunjuk pemakaiannya kan?”“Ada dong. Tapi untuk mempercepat, sebaiknya aku menerangkan langsung pada karyawanmu, Cie.” Aku sengaja memanggil Tante Yeni dengan panggilan “Cie” karena dia masih terlihat sebagai wanita Chinese. Lagipula, panggilan “Cie” akan membuatnya merasa lebih muda.Sejak hari itu, aku semakin akrab dengan keluarga Tante Yeni. Apalagi kemudian Tante Yeni memintaku untuk memberikan kursus privat komputer pada Edy dan Johan, dua anaknya yang masing-masing kelas duduk di kelas 1 SMP dan kelas 6 SD. Sedangkan untuk Cynthia, aku memberikan privat piano klasik. Karena rumahnya dekat, aku mau saja. Lagi pula Tante Yeni setuju membayarku tinggi.Aku dan Tante Yeni sering ber-SMS ria, terutama kalau ada tebakan dan SMS lucu
Bergabunglah Bersama HAHACUAN Cukup Dengan Satu User ID Nikmati Beragam Game Terlengkap Disini 🔥 BONUS NEW MEMBER 200% 🔥 BONUS NEW MEMBER 100% 🔥 BONUS NEW MEMBER 125% 🔥 BONUS PG-SOFT MEMBER 50% 🔥 BONUS HARIAN MEMBER 30% 🔥 FREESPIN 50% DAN BUYSPIN 35% 🔥 BONUS TURNOVER JADI SALDO 🔥 CASHBACK SLOT 5%
Sabtu, 23 Maret 2024
Terpaksa Memuaskan Tante yang sudah lama tidak ngentot dengan puass
Dimulai dari ketidaksengajaan, suatu kali aku bermaksud mengirim SMS ke Ria yang
isinya, “Hai say.. Lg ngapain? I miz u. Pengen deh sayang-sayangan ama u lagi.. Aku
pengen kita bercinta lagi..”Karena waktu itu aku juga baru saja ber-SMS dengan Tante
Yeni, refleks tanganku mengirimkan SMS itu ke Tante Yeni! Aku sama sekali belum sadar
telah salah kirim sampai kemudian report di HP-ku datang: Delivered to Ms. Yeni! Astaga!
Aku langsung memikirkan alasan jika Tante Yeni menanyakan SMS itu. Benar! Tak lama
kemudian Tante Yeni membalas SMS salah sasaran itu.“Wah.. Ini SMS ke siapa ya kok
romantis begini..” Wah, untung aku dan Tante Yeni sudah akrab. Jadi walaupun nakalku
ketahuan, tidak masalah.“Maaf, Cie. Aku salah kirim. Pas lagi horny nih. :p Maaf ya Cie..”
balasku. Aku sengaja berterus terang tentang ‘horny’ku karena ingin tahu reaksi Tante
Yeni.“Wah.. Kamu ternyata sudah berani begituan ya! SMS itu buat pacarmu ya?”“Bukan
Cie. Itu TTH-ku. Teman Tapi Hot.. Hahaha.. Tidak ada ikatan kok, Cie..”Beberapa menit
kemudian, Tante Yeni tidak membalas SMS-ku. Mungkin sedang sibuk. Oh, tidak, ternyata
Tante Yeni meneleponku.“Lagi dimana Boy?” Tanya Tante Yeni. Suaranya lebih akrab
daripada biasanya.“Di kamar sendirian, Cie. Maaf ya tadi SMS-ku salah kirim. Jadi
ketahuan deh aku lagi pengen..” jawabku. Kudengar Tante Yeni tertawa lepas. Baru kali ini
aku mendengarnya tertawa sebebas ini.“Aku tadi kaget sekali. Kupikir si Boy ini anaknya
alim, dan tidak mengerti begitu-begituan. Ternyata.. Hot sekali!”“Hm.. Tapi memang aku
alim lho, Cie..” kataku bercanda.“Wee.. Alim tapi ngajak bercinta.. Siapa tuh cewek?”“Ya
teman lama, Cie. Partner sex-ku yang pertama.” Aku bicara blak-blakan. Bagiku sudah
kepalang tanggung. Aku rasa Tante Yeni bisa mengerti aku.“Wah.. Kok dia mau ya tanpa
ikatan denganmu?” tanyanya heran.
Aku yang dulu juga sering heran. Tetapi memang pada kenyataannya, sex tanpa ikatan
sudah bukan hal baru di jaman ini.“Kami bersahabat baik, Cie. Sex hanya sebagian kecil
dari hubungan kami.” Jawabku apa adanya.Aku tidak mengada-ada. Dalam beberapa
bulan kami berteman, aku baru satu kali bercinta dengan Ria. Jauh lebih banyak kami
saling bercerita, menasehati dan mendukung.“Wah.. Baru tahu aku ada yang seperti itu di
dunia ini. Kalau kalian memang cocok, kenapa tidak pacaran saja?”“Kami belum ingin
terikat. Terkadang pacaran malah membuat batasan-batasan tertentu. Ada aturan, ada
tuntutan, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Dan kami belum menginginkan
itu.”“Lalu, apa partnermu cuma si Ria dan partner Ria cuma kamu?” selidik Tante
Yeni.“Kalau tentang Ria aku tidak tahu. Tapi tidak masalah bagiku dia bercinta dengan pria
lain. Aku pun begitu. Tapi tentu saja kami sama-sama bertanggung jawab untuk berhatihati. Kami sangat selektif dalam bercinta. Takut penyakit, Cie.”“Oh.. Safe Sex ya? ““Yup!
Oh ya dari tadi aku seperti obyek wawancara. Tante sendiri bagaimana dengan Om?
Kapan terakhir berhubungan sex?” tanyaku melangkah lebih jauh. Kudengar Tante Yeni
menarik nafas panjang. Wah.. Ada apa-apa nih, pikirku.“Udah kira-kira 2 bulan yang lalu,
Boy.” Jawabnya.Lama sekali. Pasti ada yang tidak wajar. Aku jadi ingin tahu lebih banyak
lagi.“Ko Fery Impotent ya Cie?”“Oh tidak.. Entah kenapa, dia sepertinya tidak bergairah
lagi padaku. Padahal dia dulu sangat menyukai sex. Minimal satu minggu satu kali kami
berhubungan.”“Lho, Cie Yeni berhak minta dong. Itu kan nafkah batin
Setiap orang membutuhkannya. Sudah pernah berterus terang, Cie?” tanyaku.“Aku sih
pernah memberinya tanda bahwa aku sedang ingin bercinta. Tetapi dia kelihatannya
sedang tidak mood. Aku tidak mau memaksa siapa pun untuk bercinta denganku.”“Oh..
Kalau Boy sih tidak perlu dipaksa, juga mau dengan Cie Yeni..” godaku asal saja. Toh kami
sudah akrab dan ini memang waktu yang tepat untuk mengarah ke sana.“Boy, kamu itu
cakep. Masa mau dengan orang seumuran aku? Suamiku saja tidak lagi tertarik
denganku..”“Cie Yeni serius? Aku tidak menyangka lho Cie Yeni bisa bicara seperti ini. Cie
Yeni masih muda. 35 tahun. Seksi dan modis. Kok bisa-bisanya rendah diri ya? Padahal
Cie Yeni terlihat sangat mandiri di mataku..” aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
Bagaimana bisa, sebuah SMS salah sasaran, dalam waktu singkat bisa berubah menjadi
obrolan sex yang sangat terang-terangan seperti ini.“Kamu lagi nganggur kan? Datang ke
rumahku sekarang ya? Suamiku tidak ada di rumah kok. Dia masih di kantor.”Telepon
ditutup. Darahku berdesir. Benarkah ini? Seperti mimpi. Sangat cepat. Bahkan aku tidak
pernah bermimpi sebelumnya untuk mendapatkan Tante Yeni. Selama ini aku sangat
menghormatinya sebagai clientku. Sebagai orang tua dari murid privatku.Bergegas aku
mengambil kunci mobil dan pergi ke rumah Tante Yeni. Di sepanjang jalan aku masih tak
habis pikir. Apakah benar nanti aku akan bercinta dengan Tante Yeni? Rasanya mustahil.
Ada Cynthia dan Mbak Ning di rumahnya
Belum lagi kalau ternyata Edy dan Johan juga sudah pulang dijemput sopirnya.Sampai di
rumah Tante Yeni, ternyata rumahnya sedang sepi. Cynthia sedang tidur dan hanya Mbak
Ning yang sedang santai menonton televisi.“Di tunggu Ibu di ruang computer, Kak.” Kata
Mbak Ning. Dia memanggilku ‘kakak’ karena usiaku masih lebih tua darinya.“Oh iya..
Terima kasih, Ning. Ada urusan sedikit dengan programnya nih.” Kataku memberikan
alasan kalau-kalau Mbak Ning bertanya-tanya ada apa aku datang.Aku masuk ke ruang
computer yang di dalamnya juga ada piano dan lemari berisi buku-buku koleksi Tante
Yeni.“Tutup saja pintunya, Boy.” Kata Tante Yeni.Tiba-tiba jantungku berdebar sangat
keras. Entah mengapa, berbeda dengan menghadapi Lucy, Ria dan Ita, aku merasa aneh
berdiri di depan seorang wanita mungil yang usianya di atasku. Setelah aku menutup
pintu, belum sempat aku duduk, Tante Yeni sudah melangkah menghampiriku.Dia
memelukku. Tingginya cuma sebahuku. Harum tubuhnya segera membuatku berdesir.
Pelukannya sangat lembut. Kepalanya disandarkan ke dadaku.Aku tak tahu harus berbuat
apa. Ini adalah pengalaman pertamaku dengan wanita yang usianya di atasku. Aku takut
salah. Apa aku harus berdiam diri saja? Memeluknya? Menciumnya? Atau langsung saja
mengajaknya bercinta? Pikiranku saling memberi ide.Banyak ide bermunculan di otakku.
Beberapa saat lamanya aku bingung. Pusing tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku
memilih tenang. Aku ingin tahu apa yang Tante Yeni inginkan. Aku akan mengikutinya. Kali
ini aku main safe saja. No risk taking this time.“Cie Yeni adalah masalah?” bisikku
Kurasakan pelukan Tante Yeni semakin erat. Dia tidak menjawab. Aku juga diam. Benarbenar situasi baru. Pengalaman baru. Kurasakan penisku tidak bergerak. Rupanya
pelukan Tante Yeni tidak membangkitkan gairahku.“Aku cuma ingin memelukmu. Sudah
lama aku tidak merasa senyaman ini di pelukan seorang laki-laki. Kamu tidak keberatan
kan aku memelukmu?” akhirnya Tante Yeni berbicara.“Tentu saja aku tidak keberatan, Cie.
Peluk saja sepuas Cie Yeni. Apapun yang Cie Yeni inginkan dariku, kalau aku mampu, aku
akan melakukannya.” Kurasakan tangannya mencubitku.“Sok romantis kamu, Boy. Aku
bukan gadis remaja yang bisa melayang mendengar kata-kata rayuanmu.. Wuih, apapun
yang kau inginkan dariku.. Aku akan melakukannya.. Hahaha.. Gak usah pakai begituan.
Aku sudah sangat senang kalau kamu mau kupeluk begini..”Benar juga kata Cie Yeni. Hari
itu aku belajar menghadapi wanita dewasa. Belajar apa yang mereka butuhkan. Bagi Tante
Yeni, kata-kata manis tidak diperlukan. Tapi tentu saja, aku tidak seratus persen percaya.
Bagiku, tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pujian dengan tulus.Perasaan
wanita sangat peka. Wanita punya sense untuk mencerna setiap kata-kata pria. Apakah
rayuan, apakah pujian yang tulus, atau hanya bunga bahasa untuk tujuan tertentu. Dan
aku memilih untuk memujinya dengan setulus hatiku.“Cie Yeni, aku beruntung bisa dipeluk
wanita sepertimu. Siapa sangka SMS salah kirim bisa berhadiah pelukan?” candaku.
Memang benar aku merasa beruntung. Ini bukan bunga bahasa, bukan rayuan. Dan aku
yakin perasaan Cie Yeni akan menangkap ketulusanku.“Yah.. Aku simpati denganmu yang
bisa bergaul akrab dengan anak-anakku. Kamu juga tidak merendahkan si Ning. Kulihat
memang pantas kau mendapatkan pelukanku, Boy..” bisik tante Yeni lagi.
Kali ini wajahnya mendongak menatapku. Ada senyum tipis menghias bibirnya. Ugh.. Aku
jadi ingin menciumnya.Di satu sisi aku tahu bahwa aku salah. Tante Yeni sudah berkeluarga dan keluarganya harmonis. Tapi di sisi lainnya, sebagai cowok normal aku
menikmati pelukan itu. Bahkan aku ingin lebih dari sekedar pelukan. Aku ingin
menciumnya, melepaskan pakaiannya, dan memberinya sejuta kenikmatan. Apalagi Tante
Yeni sudah 2 bulan lebih tidak mendapatkan nafkah batin.Pasti dia sangat haus sekarang.
Aku mulai memperhitungkan situasi. Kami dalam ruang tertutup yang walaupun tidak
terkunci, cukup aman untuk beberapa saat. Mbak Ning tidak mungkin masuk tanpa
permisi. Satu-satunya kemungkinan gangguan adalah Cynthia.Perlahan aku
memberanikan diri menyentuh wajah Tante Yeni. Dengan dua buah jariku, aku membelai
wajahnya lembut. Mataku menatapnya penuh arti. Kulihat Tante Yeni gelisah, tetapi ia
menikmati sentuhanku di wajahnya.Aku menggerakkan wajahku menunduk mencari
bibirnya. Sekejap kami berciuman. Bibirnya sangat penuh. Sangat hangat. Baru beberapa
detik, ciuman kami terlepas. Tante Yeni menyandarkan kepalanya ke dadaku.“Aku salah,
Boy. Aku mulai menyayangimu..” bisiknya nyaris tak kudengar.Aku yang sudah merasakan
ciumannya mendadak ingin lebih lagi. Dasar cowok!, rutukku dalam hati. Apalagi aku
sedang horny. Aku mencoba mengangkat wajahnya lagi. Ada sedikit penolakan, tapi
wajahnya menatapku kembali. Aku tak berani menciumnya. Dan Tante Yeni menciumku,
menghisap bibirku, memasukkan lidahnya, menggigit kecil bibirku.
Dan akhirnya kami bercumbu dengan hasrat membara.Kami sama-sama kehausan.. Agh..
Aku tak peduli lagi. Wanita yang kuhormati ini sedang kupeluk dan kucumbu. Dia
membutuhkanku dan aku juga membutuhkannya. Yang lain dipikirkan nanti saja. Nikmati
saja dulu, pikirku cepat.Aku segera menggendongnya dan membantunya duduk di atas
meja. Dengan begini aku akan lebih leluasa mencumbunya. Bibir kami saling melumat.
Bergerak lincah saling berlomba memberi kenikmatan tiada tara.Tanganku mulai bergerak
ke arah payudaranya. Aku meraba payudaranya dari luar. Memberi remasan ringan dan
gerakan memutar yang membuat Tante Yeni menggelinjang. Perlahan aku menyusupkan
tanganku ke balik pakaiannya. Kurasakan tanganku tertahan. Tante Yeni menolak.
Rupanya dia hanya ingin bercumbu denganku.Dasar cowok, aku mana tahan? Sudah
kepalang tanggung. Aku nekat tetap memasukkan tanganku dan dengan cepat aku
berhasil melepas kait bra-nya. Payudaranya terasa utuh di tanganku, masih sangat
kencang, masih sangat peka dengan rangsangan. Buktinya Tante Yeni bergetar hebat saat
aku meremas payudaranya.“Gila kamu, Boy. Aku tidak memerlukan ini semua.. Cukup
peluk aku!” tegur Tante Yeni.Aku tahu pikirannya memang menolak, tapi tubuhnya tidak.
Aku tetap merangsang payudaranya. Gerakan menolak tante Yeni melemah. Dan akhirnya
hanya desahan nafasnya yang memburu yang menandakan birahinya telah
bangkit.Dengan mulutku aku membuka kancing-kancing kemejanya. Cukup sulit, karena
ini baru pertama kali kulakukan. Tapi berhasil juga. Tante Yeni tertawa melihat ulahku.Kini
aku bebas mencumbu payudaranya. Kujilat dan kuhisap puting susunya. Tante Yeni
melenguh panjang. Kedua tangannya mencengkeram kepalaku
Wajahnya mencium rambutku. Sesekali dia menggigit telingaku, sementara kepalaku,
lidahku, bergerak bebas merangsang payudaranya. Ugh, begitu enak dan nikmat.
Payudaranya tidak terlalu besar namun seksi sekali. Warnanya coklat kekuningan dengan
puting yang cukup besar.Aku bermain cukup lama di putingnya. Menggigit ringan,
menyapukan lidahku, menghisapnya lembut sampai agak keras. Kadangkala hidungku
juga kumainkan di putingnya. Nafas Tante Yeni semakin memburu. Tentu saja untuk
masalah nafas, aku lebih kuat darinya karena aku rajin berolahraga menjaga stamina.Tak
lama tanganku menyusup ke balik roknya untuk mencari vaginanya dan membelainya dari
luar. Kurasakan celana dalamnya telah basah. Tante Yeni merapatkan kakinya. Itu adalah
penolakan yang kedua. Kepalanya menggeleng ketika kutatap matanya. Aku terus
menatap matanya dan kembali mencumbunya.Aku tidak akan memaksanya. Tetapi aku
punya cara lain. Aku akan membuatnya semakin terangsang dan semakin menginginkan
persetubuhan. Perlahan cumbuanku turun ke lehernya.“Ergh,” kudengar lenguhannya.
Wah, lehernya sensitif nih, pikirku. Dengan intensif aku mencumbunya di leher. Bergerak
ke tengkuk hingga membuatnya semakin erat memelukku dan mencumbu
telinganya.“Boy..” rintihnya. Telinganya juga sensitif.Aku bersorak. Semakin banyak titik
tubuhnya yang sensitif, semakin bagus.
Lalu tanganku meraba punggungnya. Membuat gerakan berputar-putar dan seolah
menuliskan sesuatu di punggungnya. Tante Yeni semakin bergairah.“Ka.. mu.. Na.. kal.
Kamu pin.. Pintar sekali membuatku.. Bergairah..” jawabnya terputus-putus. Nafasnya
semakin memburu.“Cie Yeni cantik sekali. Aku sangat menginginkanmu, Cie.. Aku ingin membuatmu merasakan kenikmatan tertinggi bersamaku..” bisikku sambil terus mencium
telinganya.“Aku juga menginginkanmu Boy.. Tapi aku takut..” jawab tante Yeni.Ya, aku
harus membuatnya merasa aman. Dengan gerakan cepat aku melepaskan pelukanku,
mengganjal pintu dengan kursi dan kembali mencumbunya. Saat itu di pikiranku cuma
satu. Mengunci pintu justru tidak baik.Mengganjal pintu jauh lebih baik. Kulihat Tante Yeni
merespons ciumanku dengan lebih kuat. Tanganku kembali mencoba merangsang
vaginanya. Kali ini kakinya agak terbuka. Aku berhasil memasukkan jariku dan menyentuh
vaginanya.“Aahh..” Tante Yeni semakin terangsang. Kakinya terbuka semakin lebar. Kini
aku sangat leluasa merangsang vaginanya. Jariku masuk menemukan klitoris dan
membuatnya makin hebat dilanda badai birahi.Entahlah, aku sangat tenang dalam
melakukannya. Semakin intensif aku merangsang titik-titik lemah tubuhnya, aku semakin
tenang. Aku seperti maestro yang sangat ahli melakukan tugasnya. Wah, rupanya aku
berbakat dalam menyenangkan wanita, pikirku sampai tersenyum sendiri.Tante Yeni
semakin dilanda birahi. Tangannya kini tidak malu-malu melepas kancing celanaku dan
mencari penisku. Setelah menemukannya di balik celana dalamku, dia meremas dan
mengocoknya.
Aku semakin terbakar.Kami sama-sama terbakar hebat. Perlahan aku melepas turun
celana dalamnya. Tidak perlu dilepas. Aku menatap matanya meminta persetujuannya.
Mata Tante Yeni nanar. Dia sangat kehausan dan sudah pasrah menerima apa pun
perbuatanku.Perlahan penisku menembus liang vaginanya tanpa kondom. Aku merasakan
kenikmatan yang dahsyat. Benar-benar jauh lebih nikmat dibandingkan dengan memakai
kondom. Aku berani tanpa kondom karena aku yakin dengan kesehatan Tante Yeni.Aku
mulai melakukan tugasku. Mendorong masuk, menarik keluar, memutar, memompa
kembali dan kami bercinta dengan dahsyat. Suara penisku yang mengocok vaginanya
terdengar khas. Aku mengerahkan segenap kekuatanku untuk menaklukkannya.Tetapi
benar-benar tanpa kondom membuatku penisku lebih sensitif hingga belum begitu lama,
aku sudah merasakan di ambang orgasme.Segera kuhentikan aksiku. Kucabut penisku
dan aku menenangkan diri. Kami berciuman. Aku tak mau birahi Tante Yeni surut. Setelah
agak tenang aku kembali memasukkan penisku. Kali ini aku tidak menggebu dalam
memompa penisku.Aku memilih menikmatinya perlahan-lahan. Setiap sodokan aku
lakukan dengan segenap hati hingga menghasilkan desahan dan rintihan nikmat Tante
Yeni yang sudah dua bulan tidak merasakan nikmatnya bercinta.Gelombang badai birahi
kembali melanda. Keringat kami bercucuran, lumayan untuk membakar lemak. Kami
memang sedang berolahraga, olahraga paling nikmat sedunia. Making love. Bercinta
sangat baik untuk tubuh. Tidak hanya tubuh, tetapi pikiran juga jadi fresh.
Secara teoretis, ada semacam zat penenang yang dihasilkan tubuh saat kita
bersenggama, dan zat itu membuat kita sangat nyaman.Aku heran juga dengan diriku
yang ternyata cukup kuat bercinta tanpa kondom. Penisku terasa agak panas. Aku belajar
menahan nafas dan sesekali saat kurasakan aku hendak mencapai puncak, aku
menghentikan kocokanku. Cukup sulit memang menahan orgasme.Aku berusaha seperti
menahan kencing. Dan usahaku berhasil. Setidaknya aku bisa bercinta cukup lama
mengimbangi Tante Yeni yang perlahan tapi pasti semakin menuju puncak. Muka tante
Yeni semakin kemerahan. Wajahnya yang mungil tampak sangat cantik ketika sedang
dilanda birahi.“Cie Yeni cantik sekali.. Hebat juga ketika bercinta..” bisikku. Lidahku kembali mencumbui payudaranya yang semakin penuh dengan keringat.“Arg.., kamu
juga.. Enak sekali, Boy..” ceracaunya.Tante Yeni bolak-balik memejamkan mata, membuka
mata dan menggigit bibirnya. Nafasnya sangat tidak teratur. Ngos-ngosan dan rambutnya
semakin acak-acakan terkena keringat. Wah, pemandangan yang seksi sekali saat
seorang wanita bercinta.Sebenarnya aku ingin mengubah posisi lagi. Aku ingin lebih lama
bercinta. Tetapi aku agak khawatir juga. Sudah cukup lama kami di dalam ruangan ini. Aku
khawatir Mbak Ning nanti tiba-tiba mengintip atau mencuri dengar. Aku khawatir karena
Mbak Ning cukup punya kecerdasan untuk berpikir yang tidak-tidak.
Dari bahasa tubuh Tante Yeni, aku yakin orgasmenya sudah semakin dekat. Gerakan
tubuhnya semakin cepat. Cengkeraman tangannya di punggungku kurasa telah melukai
punggungku. Terkadang giginya bergemeretak menahan nikmat. Dia tampak sekali
berusaha untuk tidak menjerit.“Agh.. Arrhhk.. Aku sudah ham.. pir..” rintihnya.Tanganku
meraih bra Tante Yeni dan meletakkannya di mulutnya supaya dia bisa menggigit bra itu.
Daripada menjerit, lebih baik menggigit bra sekuatnya. Penisku semakin gencar
menghunjam vaginanya.Sodokanku semakin kuat dan temponya kupercepat. Aku belajar
untuk sama-sama mencapai orgasme dengan Tante Yeni walaupun menurutku sangat sulit
untuk bisa orgasme bersamaan. Setidaknya, aku berencana membiarkannya orgasme
terlebih dulu, baru aku menyusul.“Arghh.. Ya.. Terus.. Yah.. Dikit lagi..” erang Tante Yeni
agak tidak jelas karena sambil menggigit bra.Aku menjaga semangat dan menjaga
penisku agar tetap kuat bertempur. Kurasakan penisku juga semakin panas.
Aku juga sudah mendekati puncak. Aliran sperma dari bawah sudah merambat naik siap
menyembur. Gerakan Tante Yeni semakin menyentak-nyentak. Untung meja di ruangan itu
adalah meja kayu yang kosong. Kalau seandainya ada buku atau ballpoint pasti sudah
berantakan terlempar.Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuh Tante Yeni bergetar
hebat. Menghentak-hentak dan tangannya mencengkeram sangat-sangat-sangat-kuat. Dia
memelukku sangat erat. Dari mulutnya keluar semacam raungan yang tertahan..
Seandainya ini di kamar hotel, pasti dia sudah menjerit sepuasnya.“Aargghh.. Sstt..”Aku
merasakan ada cairan hangat meleleh keluar. Tidak seberapa banyak tetapi membuat
penisku semakin panas. Tante Yeni orgasme sementara aku juga sudah semakin dekat.
Inilah saatnya. Aku mempercepat kocokanku. Cepat.. Dan aku mencabut penisku.Crot..!!
Srr.. R.. Srr.. Srr.. Spermaku berhamburan muncrat di perut dan dada Tante Yeni. Ah..,
nikmat sekali mencapai puncak. Perjuanganku tidak sia-sia. Aku yang selama ini rutin
berlatih menahan kencing, melatih otot-otot perut dan penisku, sukses mengantarkan
Tante Yeni menggapai orgasmenya. Dibandingkan ketika making love dengan Ria dan Ita,
kali ini lebih mendebarkan dan menantang. I did it.Tante Yeni segera mencari tissue dan
membersihkan ceceran spermaku. Kurang dari semenit kemudian dia sudah memakai bra
dan kemejanya kembali. Celana dalam dan roknya tinggal merapikan saja. Aku pun tinggal
merapikan celanaku
Beberapa saat kami berpandangan. Ada rona puas di wajah Tante Yeni. Dia tersenyum
manis. Sekarang dia bukan lagi sekedar clientku. Bukan lagi sekedar orang tua muridku.
Sekarang dia adalah partner sex-ku. Ada rasa aneh menjalar di tubuhku. Aku tiba-tiba
merasa begitu menghormati wanita di hadapanku ini. Sinar matanya yang tegas,
pembawaannya yang mandiri, dikombinasi dengan senyum dan kelembutannya, sunggu mempesona. Aku sangat bangga bisa memberinya kenikmatan.“Maaf Cie.. Sudah
melangkah jauh sekali..” kataku.“Ya! Kamu tidak sopan sekali, tadi!” katanya bergurau
tetapi dalam nada agak tegas.Kami pun tertawa bersama. Aku memeluknya. Mencium
dahinya. Merapikan rambutnya yang agak basah terkena keringat. AC di ruangan itu
sangat membantu tubuh kami cepat kering.“Habis Cie Yeni, sudah tahu aku lagi horny
malah diundang kemari..” kataku membela diri.“Terus terang aku juga lagi pengen, Boy.
Begitu tahu kamu ternyata sudah pengalaman, aku jadi tergoda denganmu. Tapi memang
tadi aku sangat takut melangkah. Untung kamunya nekat.. Aku jadi terpuaskan, deh.
Makacih ya..”Ya ampun.. Bisa-bisanya Tante Yeni bicara manja seperti ini. Aku sampai
merasa bagaimana.. gitu. Aneh. Wanita memang makhluk paling aneh sedunia. Di balik
penampilannya yang keras dan tegar, toh dia tetap wanita juga. Sisi lembutnya tetap
ada.“Ya.. Aku juga senang sekali bisa memuaskan Cie Yeni. Aku juga belajar banyak lho.
Sepertinya tadi Cie Yeni kurang suka dengan permainan tanganku di vagina ya?”“Bukan
begitu. Aku tidak tahu apakah tanganmu bersih atau tidak. Tapi lama kelamaan karena
enak, ya sudah.. diteruskan saja..”“Oh jangan kuatir.. Aku selalu sedia handy desinfectant
kok.
Biar tanganku bebas kuman.” Kataku menenangkannya. Aku tadi memang pakai handy
desinfectant, tapi kan tetap saja aku pegang setir mobil. Haha.. Yang ini tidak aku
ceritakan. (Kalau Cie Yeni baca cerita ini, maafin ya..)“Yah baguslah. Aku juga suka karena
kamu selalu terlihat bersih dan harum..” tante Yeni mencium bibirku lagi. Kami kembali
berpagutan. Lidahku kembali menerobos mulutnya. Menekan lidahnya, saling bergelut.
Kami terus berciuman sambil berpelukan.Banyak pria melupakan kenyataan bahwa ada
hubungan yang harus dibina setelah kita berhubungan sex. Setelah terjadi orgasme,
wanita tetap membutuhkan sentuhan, pelukan dan ciuman. Wanita sangat
berharga.Jangan sampai kita para pria, begitu mendapatkan orgasme, langsung selesai
begitu saja. Harus Ada after orgasm service. Ini adalah salah satu kunci yang aku pegang
untuk membuat wanita merasa nyaman bersamaku. Kami berpelukan dan dengan jelas
aku mendengar suara Tante Yeni..“Aku menyayangimu, Boy. Terima kasih buat semuanya.
Aku merasa dihargai dan dibutuhkan olehmu..” kata-kata ini tidak akan pernah aku
lupakan. Kalau Cie Yeni membaca cerita ini, Cie Yeni pasti ingat bahwa kata-katanya sama
persis dengan yang kutulis. (Kecuali namaku, yaa.. Hehe).Sebetulnya aku harus
menanyakan arti sex bagi Tante Yeni. Tapi aku menundanya. Aku pikir aku bisa
menanyakannya lain kali. Entah mengapa aku tidak bertanya.Lalu kami keluar dari
ruangan itu. Aku tidak melihat Mbak Ning. Sengaja aku ke kamar mandi dan kemudian aku
mengintip ke kamar Mbak Ning dari kaca nako kamarnya. Astaga, dia sedang berganti
baju.“Hayo.. Ngintip! Dasar cowok!” hardik Mbak Ning. Aku terkejut tapi tertawa.“Maafmaaf, kupikir dimana tadi kok tidak ada.. Aku pulang dulu ya..”“Ya.. Ya.. Buka sendiri
pagarnya yaa” byee byeee

.gif)