MEGA123 - Cerita sex hari ini adalah hari pertamaku tinggal di kota Bandung. Karena tugas kantorku, aku terpaksa tinggal di Bandung selama 5 hari dan weekend di Jakarta. Di kota kembang ini, aku menyewa kamar di rumah temanku. Menurutnya, rumah itu hanya ditinggali oleh ayahnya yang sudah pikun, seorang perawat, dan seorang pembantu.
"Rumah yang asri" gumamku dalam hati. Halaman yang hijau, penuh tanaman dan bunga yang segar dikombinasikan dengan kolam ikan berbentuk oval. Aku mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali sampai pintu dibukakan. Sesosok tubuh semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum manisnya. "Pak Rafi ya.." "ya.. saya temannya mas Anton yang akan menyewa kamar disini. Lho, kamu pernah kerja ditetanggaku?" jawabku suprise. Perawat ini memang pernah bekerja pada tetanggaku di Bintaro sebagai baby sitter. "Iya.. saya dulu pengasuhnya Aurelia. Saya keluar dari sana karena ada rencana untuk kimpoi lagi. Saya kan dulu janda pak.. tapi mungkin belum jodoh.. ee dianya pergi sama orang lain.. yasudah, akhirnya saya kerja disini.." Mataku memandangi sekujur tubuhnya. Lisa (nama perawat tersebut) secara fisik memang tidak pantas menjadi seorang perawat.
Kulitnya putih mulus, wajahnya manis, rambutnya hitam sebahu, buah dadanya sedang menantang, dan kakinya panjang semampai. Kedua matanya yang bundar memandang langsung mataku, seakan ingin mengatakan sesuatu. Aku tergagap dan berkata, "Ee.. Mba Lisa, antarkan ke kamar.." Lisa menunjukkan kamar yang sudah disediakan untukku. Kamar yang luas, ber-AC, tempat tidur besar, kamar mandi sendiri, dan sebuah meja kerja. Aku meletakkan koperku dilantai sambil melihat sekililing, sementara Lisa merunduk merapikan sprei ranjangku. Tanpa sengaja aku melirik Lisa yang sedang merunduk. Dari balik baju putihnya yang kebetulan berdada rendah, terlihat dua buah dadanya yang ranum bergayut dihadapanku. Ujung buah dada yang berwarna putih itu ditutupi oleh BH berwarna pink. Darahku terkesiap. Ahh... perawat cantil, janda, di rumah yang relatif kosong. Sadar melihat aku terkesima akan keelokan buah dadanya, dengan tersipu-sipu Lisa menghalangi pemandangan indah itu dengan tangannya. "Semuanya sudah beres pak.. silahkan beristirahat.." "Ee,.. ya.. terimakasih" jawabku seperti baru saja terlepas dari lamuinan panjang. Sore itu aku berkenalan dengan ayah Anton yang sudah pikun itu. Ia tinggal sendiri di rumah itu setelah ditinggalkan oleh istrinya 5 tahun yang lalu. Selama beramah-tamah dengan sang bapak, mataku tak lepas memandangi Lisa. Sore itu ia menggunakan daster tipis yang dikombinasikan dengan celana kulot yang juga tipis. Buah dadanya nampak semakin menyembul dengan dandanan seperti itu. Dirumah itu ada seorang pembantu berumur 17 tahun. Mukanya manis, walaupun tidak secantik Lisa. Badannya bongsor dan montok.
Ani namanya. Ia yang sehari-hari menyediakan makan untukku. Hari demi hari berlalu. Karena kepiawaianku dalam bergaul, aku sudah sangat akrab dengan orang-orang di rumah itu. Bahkan ani sudah bisa mengurutku dan Lisa sudah berani untuk ngobrol di kamarku. Bagi janda muda itu, aku sudah merupakan tampat mencurahkan isi hatinya. Begitu mudah keakraban itu terjadi hingga kadang-kadang Lisa merasa tidak perlu mengetuk pintu sebelum masuk kamarku. Sampai suatu malam, ketika itu hujan turun dengan lebatnya. Aku, karena sedang suntuk memasang VCD porno kesukaanku di laptopku. Tengah asyik-asyiknya aku menonton tanpa sadar aku menoleh ke arah pintu, astaga.. Lisa tengah berdiri disana sambil juga ikut menonton. Rupanya aku lupa menutup pintu, dan ia tertarik akan suara-suara erotis yang dikeluarkan oleh film produksi Vivid interactive itu. Ketika sadar bahwa aku mengetahui kehadirannya, Lisa tersipu dan berlari ke luar kamar. "Mbak Lisa.." panggilku seraya mengejarnya ke luar. Kuraih tangannya dan kutarik kembali ke kamarku. "Mbak.. mau nonton bareng? ngga apa-apa kok.." "Ah, enggak pak... malu aku.." katanya sambil melengos. "lho.. kok malu.. kayak sama siapa saja.. kamu itu.. wong kamu sudah cerita banyak tentang diri kamu dan keluarga.. dari yang jelek sampai yang bagus.. masa masih ngomong malu sama aku?" kataku seraya menariknya ke arah ranjangku. "Yuk kita nonton bareng yuk,,." Aku mendudukan Lisa di ranjangku dan pintu kamarku ku kunci. Dengan santai aku duduk disamping Lisa sambil mengeraskan suara laptopku.
Adegan-adegan erotis yang diperlihatkan kedua bintang porno itu memang menakjubkan. Mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik Lisa yang sedari tadi takjub memandangi adegan-adegan panas tersebut. Terlihat ia berkali-kali menelan ludah. Nafasnya mulai memburu, dan buah dadanya terlihat naik turun. Aku memberanikan diri untuk memegang tangannya yang putih mulus itu. Lisa tampak sedikit kaget, namun ia membiarkan tanganku membelai telapak tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Lisa basah oleh keringat. Aku membelai-belai tangannya seraya perlahan-lahan mulali mengusap pergelangan tangannya dan terus merayap ke arah ketiaknya.
Lisa nampak pasrah saja ketika aku memberanikan diri melingkan tanganku ke bahunya sambil membelai mesra bahunya. Namun ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil memeluk bahunya, tangan kananku kumasukkan ke dalam daster melalui lubang lehernya. Tanganku mulai merasakan montoknya pangkal buah dada Lisa. Kubelai-belai seraya sesekali kutekan daging empuk yang menggunung di dada bagian kanannya. Ketika kulihat tak ada reaksi dari Lisa, secepat kilat kusisipkan tanganku ke dalam BH-nya. Ketika kulihat cup BH-nya dan kugenggam buah dada ranum si janda muda itu. "Ohh.. pak... jangan.." Bisiknya dengan serak seraya menoleh ke arahku dan mencoba menolak dengan menahan pergelangan tangan kananku dengan tangannya. "Sshh.. ngga apa-apa mbak.. engga apa-apa.." "Nanti ketahuan ah.." "Engga.. jangan takut.." kataku seraya dengan sigap memegang ujung puting buah dada Lisa dengan ibu jari dan telunjuk ku, lalu kupelintir-pelintir ke kiri dan kanan. "Ohh..hh..ouh..jj..jangannhh..ouhhh.." Lisa mulai merintih-rintih sambil memejamkan matanya.
Pegangan tangannya mulai mengendor di pergelangan tanganku. Saat itu juga kusambar bibirnya yang sedari sudah terbuka karena merintih. "Ouhh.. mmff..moffhh.." Dengan nafas tersengal-sengal Lisa mulai membalas cuimanku. Kucoba mengulum lidahnya yang mungil, ketka kurasakan ia mulai membalas sedotanku. Bahkan ia kini mencoba menydot lidahku ke dalam mulutnya seakan ingin menelan bulat-bulat. Tangannya kini sudah tidak menahan pergelanganku lagi, namun kedua-duanya sudah melingkari leherku. Malahan tangan kanannya digunakannya untuk menekan belakang kepalaku sehingga ciuman kami berdua semakin lengket dan bergairah, aku pun melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Aku melepas bibirku dari kulumannya, dan aku mulai menciumi leher putih Lisa dengan buas."ahh..ouhh.." Lisa menggelinjang kegelian dan tanganku mulai menyingkap daster di bagian pinggangnya. Kedua tanganku merayap cepat ke arah tali BH-nya dan...
"Tass.." terlepas BH-nya dan dengan sigap kualihkan kedua tanganku ke dadanya, saat itulah kurasakan berapa kencang dan ketatnya kedua buah dada Lisa. Kenikmatan meremas-remas dan mempermainkan putingnya itu terasa betul sampai ke ujung syarafku. Penisku yang sedari tadi sudah menegang terasa semakin tegang dan keras. Rintihan-rintihan Lisa mulai berubah menjadi jeritan kecil terutama saat kurenas buah dadanya dengan keras.
Lisa sekarang lebih mengambil inisiatif. Dengan nafasnya yang sudah sangat terengah-engah, ia mulai menciumi leher dan mukaku. Ia bahkan mulai berani menjilati dan menggigit daun telingaku ketika tangan kananku mulai merayap ke arah selangkangannya. Dengan cepat aku menyelipkan jari-jariku ke dalam kulotnya melalui perut, langsung ke dalam celana dalamnya. Walaupun kami berdua masih dalam keadaan duduk berpelukan di atas ranjang, posisi paha Lisa saat itu sudah dalam keadaan mengangkang seakan memberi jalan bagi jari-jemariku untuk secepatnya mempermainkan vaginanya. Hujan semakin deras saja mengguyur kota Bandung.
Sesekali terdengar suara guntur bersahutan. Namun, cuaca dingin tersebut sama sekali tidak mengurangi gairah kami berdua di saat itu. Gairah seorang lajang yang memiliki libido yang sangat tinggi dan seorang janda muda yang sudah lama sekali tidak menikmati sentuhan lelaku. Lisa mengeratkan pelukannya di leherku ketika jemariku menyentuh bulu-bulu lebat di ujung vaginanya. Ia mengehentikan ciumannya dikupingku dan terdiam sambil terus memenajmkan matanya. Tubunya terasa menegang ketika jari tengahku mulai menyentuh vaginanya yang sudah terasa basah dan berlendir itu. Aku mulai mempermainkan vagina itu dan membelainya ke atas dan ke bawah. "Ouhhh,,,pak..ouhhh... ahhhh..g..gggelliii" Lisa sudah tidak bisa berkata-kata lagi selain merintih penuh nafsu ketika clitorisnya kutemukan dan kupermainkan. Seluruh badan Lisa bergetar dan berhelinjang. Ia nampak sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi.
Jeritan-jeritannya mulai terdengar keras. Sempat juga aku khawatir dibuatnya. Jangan-jangan seisi rumah mendengar apa yang tengah kami lakukan. Namun kerasnya suara hujan dan geledek di luar rumah menenangkanku. Benda kecil sebesar kacang itu terasa nikmat di ujung jari tengahku ketika aku memutar-mutarnya. Sambil mempermainkan clitorisnya, aku mulai menundukkan kepalaku dan menciumi buah dadanya yang masih tertutup oleh daster.
Seolah mengerti, Lisa menyingkapkan dasternya ke atas, sehingga dengan jelasaku bisa melhat buah dadanya yang ranum, kenyal dan berwarna putih mulua itu bergantung di hadapanku. Karena nafsuku sudah memuncak, dengan buas kusedot dan kuhisap buah dadanya yang berputing merah jambu itu. Putingnya terasa keras di dalam mulutku menandakan nafsu janda muda itupun sudah sampai puncak. Lisa mulai menjerit-jerit tidak karuan sambil menjambak rambutku. Sejenak kuhentikan hisapanku danbertanya "Enak mbaa?" sebagai jawabannya, Lisa membenamkan kembali kepalaku ke dalam ranumnya buah dadanya. Jari tengahku yang masih mempermainkan clitorisnya kini kuarahkan ke lubang vaginanya Lisa yang sudah menganga karena basah dan posisi pahanya yang mengangkang. Denagn pelan tapi pasto kubenamkan jari tengahku itu ke dalamnya dan "Auuhhh..p..pak..hh" Lisa menjerit dan menaikkan kedua kakinnya keatas ranjang. "Teruuuusss...auhhhh.." kugerakkan jariku keluar masuk di vaginanya dan Lisa menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama keluar masuknya jemariku itu.
Aku menghentikan ciumanku di buah dada Lisa dan mulai mengecup bibir ranum janda itu. Matanya tak lagi terpejam, tapi memandang sayu ke mataku seakan berharap kenikmatan yang ia rasakan ini jangan pernah berakhir. Tangan kiriku yang masih bebas, membimbing tangan kanan Lisa ke balik celana pendekku. Ketika tangannya menyentuh penisku yang sudah sangat keras dan besar itu, terlihat ia agak terbelalak karena belum pernah melihat bentuk yang panjang dan besar seperti itu. Lisa meremas penisku dan mulai mengocoknya naik turun naik turun.. kocokan yang nikmat yang membuatku tanpa sadar melenguh, "Ahh..mbak,,,enaknya,,,terusin..." Saat itu kami berdua berada pada puncaknya nafsu. Aku yakin bahwa mba Lisa sudah ingin secepatnya memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Ia tidak mengatakannya secara langsung, namun dari tingkahnya menarik penisku dan mendekatkannya ke vaginanya sudah merupakan pertanda. Namun, di detik-detik yang paling menggairahkan itu terdengar suara si bapak tua berteriak, "Lisaaa.. Lisaaaa.." kami berdua tersentak.
Kukeluarkan jemariku dari vaginanya, Lisa melepaskan kocokannya dan ia membenahi pakaian dan rambutnya yang berantakan. Sambil mengancingkan kembali BH-nya ia keluar dari kamarku menuju kamar bapak tua itu. Sialan !, kepalaku terasa pening. Begitulah penyakitku kalau libidoku tidak tersalurkan. Beberapa saat lamanya aku menanti siapa tahu janda muda itu akan kembali ke kamarku. Tapi nampaknya ia sibuk mengurus orang tua pikun itu, sampai aku tertidur. Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba aku merasa nafasku sesak. Dadaku serasa tertindih suatu beban yang berat. Aku terbangun dan membuka mataku. Aku terbelalak, karena tampak sosok tubuh putih mulus telanjang bulat menindih tubuhku. "Mbak Lisa?" tanyaku tergagap karena masih mengagumi keindahan tubuh mulus yang berada diatas tubuhku. Lekukan pinggulnya terlihat landai, dan perutnya terasa masih kencang. Buah dadanya yang lancip dan montok itu menindih dadaku yang masih terbalut piyama itu.
Seketika, rasa kantukku hilang. Mba Lisa tersenyum simpul ketika tangannya memegang celanaku dan merasakan berapa penisku sudah kembali menegang. "Kita tuntaskan ya mba?" kataku sambil menyambut kuluman lidahnya. Sambil dalam posisi tertindih aku menanggalkan seluruh baju dan celanaku. Kegairahan yang sempat terputus itu, mendadak kembali lagi dan terasa bahkan lebih menggila. Kami berdua yang sudah dalam keadaan bugil saling meraba, meremas, mencium, merintih dengan keganasan yang luar biasa. Mba Lisa sudah tidak melu-malu lagi menggoyangkan pinggulnya di atas penisku sehingga bergesekkan dengan vaginanya. Tidak lebih dari 5 menit, aku merasakan bahwa nafsu syahkwat kami sudah kembali berada dipuncak. Aku tak ingin kehilangan momen lagi.
Kubalikan tubuh Lisa, dan kutindih sehingga keempukan buah dadanya terasa benar menempel di dadaku. Perutku menggesek nikmat perutnya yang kencang, dan penisku yang sudah sangat mengang itu bergesekan dengan vaginanya. "Mba.. buka kakinya.. sekarang kamu akan merasakan surga nya dunia mbak.." bisikku sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil tersengal-sengal Lisa membuka pahanya selebar-lebarnya. Ia tersenyum manis dengan mata sayunya yang penuh harap itu. "Ayo pak.. masukan sekarang.." Aku menempelkan kepala penisku yang besar itu di mulut vaginanya Lisa. Perlahan-lahan aku memasukkannya ke dalam, semakin dalam, semakin dalam dan,"aaaa...aoooohhhh...ppakkkk... ahhh..." rintihannya sambil membelalakkan matanya ketika hampir seluruh penisku kubenamkan ke dalam vaginanya. Setelah itu,"Bleeesss" dengan sentakan yang kuat kubenamkan habis penisku diiringi jeritan erotisnya,"Ahhh... besarnyaa... ennakkk pakkk..."
Aku mulai memompakan penisku keluar masuk, keluar masuk. Gerakanku semakin cepat dan cepat. Semakin cepat gerakkanku semakin keras jeritan Lisa terdengar dikamarku. Kadang-kadang pinggulnya sampai terangkat-angkat unutk mengimbangi kecepatan naik turunnya pinggulku. Buah dadanya yang terlihat bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan bergoyang ke sana ke mari. Sungguh menggairahkan ! Tiba-tiba aku merasakkan pelukannya semakin mengeras. Terasa kuku-kukunya menancap di punggungku. Otot-ototnya mulai menegang. Nafsa perempuan itu juga semakin cepat. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, mulutnya terbuka, matanya terpejam, dan alisnya merengut "Ahhh.." Lisa menjerit panjang seraya menjambak rambutku, dan penisku yang masih bergerak masuk keluar itu terasa disiram oleh suatu cairan hangat.
Dari wajahnya yang menyeringai, tampak janda muda itu tengah menyhayati orgasmenya yang mungkin sudah lama tidak pernah ia alami itu. Aku tidak mengendurkan goyangan pinggulku,karena aku sedang berada di puncak kenikmatanku. "Mbak.. goyang terus mbak.. aku juga mau keluar.." Lisa kembali menggoyang pinggulnya dengan cepat dan beberapa detik kemudian, seluruh tubuhku menegang."Keluarkan di dalam saja pak.." bisik Lisa "aku masih pakai IUD" begitu Lisa selesai berbisik, aku melenguh. "Mbak... aku keluar... aku keluar... ahhhh..." dan "Cratt..cratt...cratt" kubenamkan penisku dalam-dalam di vagina perempuan itu. seakan mengerti, Lisa mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga puncak kenikmatan ini terasa benar hingga ke tulang sumsumku. Kami berdua terkulai lemas sambil memejamkan mata.
Kami berdua masih saling berpelukan dan akupun membayangkan hari-hari penuh kenikmatan yang akan kualami sesudah itu di Bandung. Sejak kejadian malam itu, kesibukan di kantorku yang luar biasa membuatku sering pulang larut malam. Kepenatanku selalu membuatku langsung tertidur lelap. Kesibukan ini bahkan membuatku jarang bisa berkomunikasi dengan Lisa. Walaupun begitu, sering juga aku mempergunakan waktu makan siangku untuk mampir ke rumah dengan maksud untuk melakukan seks during lunch. Sayang, diwaktu tersebut ternyata ayah Anton senantiasa dalam keadaan bangun sehingga niatku tak pernah kesampaian.
Namun suatu hari aku cukup beruntung walaupun orang tua itu tidak tidur. Aku mendapat apa yang kuinginkan. Ceritanya Lisa diminta Oleh ayah Anton untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Melihat peluang itu, aku diam-diam mengikutinya dari belakang. Kamar ayah Anton memang tidak terlihat dari tempat dimana orang tua itu biasa duduk. Sesampainya di kamar kuraih pinggang semampai perawat itu dari belakang. Lisa terkejut dan tertawa kecil ketika sadar siapa yang memeluknya dan tanpa basa-basi langsung menyambut ciumanku dengan bibirnya yang mungil itu sambil buas mengulum lidahku. Ia memang sudah tidak malu-malu lagi menunjukkan karakternya sebagai seorang pecinta sejati yang tanpa malu-malu lagi menunjukkan kebuasan gairahnya. Kadang aku tidak mengerti, kenapa suaminya tega meninggalkannya. Namun analisaku mengatakan suaminya tak mampu mengimbangi gejolak gairah Lisa di atas ranjang dan untuk menutupi rasa malu yang terus menerus terpaksa ia meninggalkan perempuan muda itu untuk hidup bersama dengan perempuan lain yang lebih low profile.
Aku memang belum sempat menanyakan pada Lisa bagaimana ia menyalurkan kebutuhan biologinya di saat menjanda. Aku berpikir bahwa mastrubasi adalah jalan satu-satunya. Kami berdua masih saling berciuman dengan ganas ketika dengan sigap aku menyelipkan tanganku ke balik baju perawatnya yang putih itu. Sungguh terkejut ketika aku sadar bahwa ia sama sekali tidak memakai BH sehingga dengan mudahnya kuremas buah dada kanannya yang ranum itu. "Kok ngga pakai BH mbak?" Sambil menggelinjang dan mendesah, ia menjawab sambil tersenyum nakal. "Supaya gampang diremas sama kamu.." Benar-benar jawaban yang menggemaskan!
Kembali kukulum bibir dan lidahnya yang menggairahkan itu sambil dengan cepat kubuka kancing bajunya yang pertama, kedua dan ketiga. Lalu tanpa membuang waktu kutundukan kepalaku, dengan tangan kananku kukeluarkan buah dada kanannya dan kuhisap sedemikian rupa sehingga hampir setengahnya masuk ke dalam mulutku. Lisa mulai mengerang kegelian, "Ouhh.. geli mas.. ahh.." Sejak kejadian malam itu, ia memang membiasakan dirinya untuk memanggilku mas. Sambil menggelinjang dan merintih tangan kanan Lisa mulai mengelus-ngelus bagian depan celana kantorku. Penisku yang terletak tepay di baliknya terasa semakin menegang dan menegang.
Jari-jari lentik perempuan itu berusaha untuk mencari letak kepala penisku untuk kemudian digosok-gosoknya dari luar celana. Sensasi itu membuaat nafasku semakin memburu seperti layaknya nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau kalah darinya, tangan kiriku berusaha menyingkap rok janda muda itu fan dengan sigap kusogokkan jari-jemariku di celana dalamnya. Tepat diatas vagina nya, selana dalam Lisa terasa sudah basah. Sungguh hebat! Hanya dalam beberapa menit saja ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga vaginanya sudah siap untuk dimasuki oleh penisku. Tanpa membuang waktu kuturunkan celana dalam tipis yang kali ini berwarna hitam. Kudorong tubuh montok perawat itu kedinging lalu kuangkat paha kananya sehingga dengkulnya menempel di pinggangku.
Dengan sigap pula kubuka relsleting celanaku dan kukeluarkan penisku yang sudah sangat tegang dan besar itu. Lisa sudah nampak pasrah. Ia hanya bersender di dinding sambil memejamkan matanya dan memeluk tubuhku. "Lisa.. mana minyak tawonya.. kok lama betul.." Suara orang tua itu terdengar dengan keras. Sungguh menjengkelkan. Lisa sempat terkejut dan nampak panik ketika kemudian aku berbisik, "Tenang mbak.. jawab aja.. kita selesaikan dulu ini.. kamu mau kan?" Ia mengangguk seraya tersenyum manis. "Sebentar pak" teriaknya. "Minyak tawonnya kuselip entah kemana.. ini lagi dicari!" Ia tertawa cekikikan, geli mendengar jawaban spontannya sendiri. Namun tawanya itu langsung berubah menjadi jeritan erotis kecil ketika kupukul-pukulkan kepala penisku ke selangkangannya. Perlahan-lahan kutempelkan kepala penisku itu dipintu vaginanya.
Sambil kuputar-putar kecil pinggulku perlahan-lahan, Lisa ternganga sambil terengah-engah, "Ahh..ahhh..ouhhh.. mas... besar sekali.... pelan-pelan mas pelan-pelan.." dan "ahh!" Lisa menjerit kecil ketika kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa sangat sempit dalam posisi beridiri ini. Aku menyodokkan penisku maju mundur dengan gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh Lisa terguncang-guncang, buah dadanya bergayut ke kiri dan ke kanan dan jeritannya semakin menjadi-jadi. Aku sudah tak peduli kalau ayah Anton sampai mendengarkan jeritan perempuan itu. Nafsuku sudah naik ke kepala. Janda muda ini memang memiliki daya pikat seks yang luar biasa. Walaupun ia hanya seorang perawat, namun kemulusan dan kemontokan badannya sungguh setara dengan perempuan kota jaman sekarang.
Sangat terawat dan nikmat sekali bila digesek-gesekkan dikulit nya. Gerakkan pinggulku semakin cepat dan semakin cepat. Mulutku tak puas-puasnya menciumi dan menghisap puting buah dadanya yang meruncing panjang dan keras itu. Buah dadanya yang kenyal itu hampir seluruhnya dibasahi oleh air liurku. Aku memang sedang nafsu berat. Aku merasakan bahwa sebentar lagi aku akan orgasme dan bersamaan dengan itu juga tubuh Lisa menegang. Kupercepat gerakan pinggulku dan tiba-tiba, "ahh.. mas.. mass.. aku keluar.. ahhh" Jeritnya. Saat itu juga kusodokkan penisku ke dalam vagina janda muda itu sekeras-kerasnya dan, "Crattt...crattt..crattt" "ahhh...mbakkk.." erangku sambil meringis menikmati puncak orgasme kami yang waktunya jatuh bersamaan itu.
Kami berpelukan sesaat dan Lisa berbisik dengan suara serak. "Mas.. aku ngga pernah dipuasin laki-laki seperti kamu muasin aku.. kamu hebat.." Aku tersenyum simpul. "mbakk,, aku masih punya 1001 teknik yang bisa membuat kamu melayang ke surga ke-7.. engga bosan dan kalo lain waktu aku praktekan sama kamu? Perlahan Lisa menurunkan paha kanannya dan mencabut penisku dari vaginanya. "Bosan? aku gila apa.. yang beginian ngga akan membuatku bosan.. kalau bisa setiap hari aku mau mas.." Luar biasa libidho perempuan ini. Beruntung sekali aku mempunyai libidho yang luar biasa besarnya. Sebagai partner seks, kami benar-benar seimbang. Setelah kejadian siang itu aku dan Lisa seperti pengantin baru saja. Tak ada waktu luang yang tak terlewatkan tanpa nafsu dan birahi. Walaupun demikian, aku tekankan pada Lisa, bahw hubungan antara aku dan dia hanyalah sebatas hubungan untuk memuaskan nafsu birahi saja. Aku dan dia punya hak unutk berhubungan dengan orang lain. Lisa si janda muda yang sudah merasakan kenikmatan seks bebas itu tentu saja menyetujuinya. Suatu hari, Lisa masuk ke dalam kamarku dan ia berkata, "Aku akan mengambil cuti selama 1 bulan. Aku harus mengurusi masalah tanah warisan di kampungku.."
"Lha.. kalau mbak pulang siapa yang akan mengurusi bapak?" tanyaku sambil membayangkan betapa kosongnya hari-hariku selama sebulan ke depan. "Mas Anton bilang, akan ada adik bapak yang akan menggantikan aku selama 1 bulan,, namanya mbak ine.. dia engga kimpoi.. umurnya sudah hampir 40 tahun.. orangnya baik kok.. crewet tapi ramah.." Yah apa boleh buat aku terpaksa kehilangan seorang teman berhubungan seks yang sangat menggairahkan. Hitung-hitung cuti 1 bulan.. atau kalau berpikir positif.. Its time to look a new partner!!! Hari ini adalah hari ke lima setelah kepergian Lisa. Mbak ine, pengganti sementara Lisa, ternyata adalah adik ipar ayah Anton. Jadi, adik istri si bapak tua itu.

.gif)