
.gif)
MEGA123-Saya dilahirkan di kota Pekanbaru di propinsi sumatera, kota yang panas karena terletak
di dataran rendah. Selain tinggi badan seukuran orang-orang bule, kata temanku wajahku
lumayan. Mereka bilang Saya hitam manis. Sebagai laki-laki, Saya juga bangga karena
waktu SMA dulu Saya banyak memiliki teman-teman perempuan. Walaupun Saya sendiri
tidak ada yang tertarik satupun di antara mereka. Mengenang saat-saat dulu Saya kadang
tersenyum sendiri, karena walau bagaimanapun kenangan adalah sesuatu yang berharga
dalam diri kita. Apalagi kenangan manis.Sekarang Saya belajar di salah satu perguruan
tinggi swasta di kota S, mengambil jurusan ilmu perhotelan. Saya duduk di tingkat akhir.
Sebelum berangkat dulu, orangtua Saya berpesan harus dapat menyelesaikan studi tepat
pada waktunya. Maklum, keadaan ekonomi orangtuSaya juga biasa-biasa saja, tidak kaya
juga tidak miskin. Apalagi Saya juga memiliki 3 orang adik yang nantinya juga akan kuliah
seperti Saya, sehingga perlu biaya juga. Saya camkan kata-kata orangtuSaya. Dalam hati
Saya akan berjanji akan memenuhi permintaan mereka, selesai tepat pada waktunya.
Tapi para pembaca, sudah kutulis di atas bahwa segala sesuatu yang terjadi pada Saya
tanpa Saya dapat menyadarinya, sampai saat ini pun Saya masih belum dapat
menyelesaikan studiku hanya gara-gara satu mata kuliah saja yang belum lulus, yaitu
mata kuliah yang berhubugan dengan hitung berhitung. Walaupun sudah kuambil selama
empat semester, tapi hasilnya belum lulus juga.
Untuk mata kuliah yang lain Saya dapat menyelesaikannya, tapi untuk mata kuliah yang
satu ini Saya benar-benar merasa kesulitan. “Coba saja kamu konsultasi kepada dosen
pembimbing akademis..,” kata temanku Andi ketika kami berdua sedang duduk-duduk
dalam kamar kost. “Sudah, Di. Tapi beliau juga lepas tangan dengan masalahku ini. Kata
beliau ini ditentukan oleh dirimu sendiri.” Kata Saya sambil menghisap rokok dalam-dalam.
“Benar juga apa yang dikatakan beliau, Gi, semua ditentukan dari dirimu sendiri.” sahut
Andi sambil termangu, tangannya sibuk memainkan korek api di depannya. Lama kami
sibuk tenggelam dalam pikiran kami masing-masing, sampai akhirnya Andi berkata, “Gini
saja, Gi, kamu langsung saja menghadap dosen mata kuliah itu, ceritakan kesulitanmu,
mungkin beliau mau membantu.” kata Andi. Mendengar perkataan Andi, seketika Saya
langsung teringat dengan dosen mata kuliah yang menyebalkan itu. Namanya Ibu Frisca,
umurnya kira-kira 35 tahun. Orangnya lumayan cantik, juga seksi, tapi banyak temanku
begitu juga Saya mengatakan Ibu Frisca adalah dosen killer, banyak temanku yang dibuat
sebal olehnya. Maklum saja Ibu Frisca belum berkeluarga alias masih sendiri, perempuan
yang masih sendiri mudah tersinggung dan sensitif. “Waduh, Di, bagaimana bisa, dia
dosen killer di kampus kita..,” Kata Saya bimbang. “Iya sih, tapi walau bagaimanapun
kamu harus berterus terang mengenai kesulitanmu, bicaralah baik-baik, masa beliau tidak
mau membantu..,” kata Andi memberi saran..
Saya terdiam sejenak, berbagai pertimbangan muncul di kepala Saya. Dikejar-kejar
waktu, pesan orang tua, dosen wanita yang killer. Akhirnya Saya berkata, “Baiklah Di, akan
kucoba, besok Saya akan menghadap beliau di kampus.” “Nah begitu dong, segala
sesuatu harus dicoba dulu,” sahut Andi sambil menepuk-nepuk pundakku. Siang itu Saya
sudah duduk di kantin kampus dengan segelas es teh di depanku dan sebatang rokok
yang menyala di tanganku. Sebelum bertemu Ibu Frisca Saya sengaja bersantai dulu,
karena bagaimanapun nanti Saya akan gugup menghadapinya, Saya akan menenangkan
diri dulu beberapa saat. Tanpa Saya sadari, tiba-tiba Andi sudah berdiri di belakangku sambil menepuk pundakku, sesaat Saya kaget dibuatnya. “Ayo Chris, sekarang waktunya.
Bu Frisca kulihat tadi sedang menuju ke ruangannya, mumpung sekarang tidak mengajar,
temuilah beliau..!” bisik Andi di telingSaya. “Oke-oke..,” Kata Saya singkat sambil berdiri,
menghabiskan sisa es teh terakhir, kubuang rokok yang tersisa sedikit, kuambil permen
dalam sSaya, kutarik dalam-dalam nafasku. Saya langsung melangkahkan kaki. “Kalau
begitu Saya duluan ya, Chris. Sampai ketemu di kost,” sahut Andi sambil
mFriscanggalkanku. Saya hanya dapat melambaikan tangan saja, karena pikiranku masih
berkecamuk bimbang, bagaimana Saya harus menghadapai Ibu Frisca, dosen killer yang
masih sendiri itu. Perlahan Saya berjalan menyusupi lorong kampus, suasana sangat
lengang saat itu, maklum hari Sabtu, banyak mahasiswa yang meliburkan diri, lagipula
kalau saja Saya tidak mengalami masalah ini lebih baik Saya tidur-tiduran saja di kamar
kost, ngobrol dengan teman. Hanya karena masalah ini Saya harus bersusah-susah
menemui Bu Frisca, untuk dapat membantuku dalam masalah ini
Kulihat pintu di ujung lorong. Memang ruangan Bu Frisca terletak di pojok ruangan,
sehingga tidak ada orang lewat simpang siur di depan ruangannya. Kelihatan sekali
keadaan yang sepi. Pikirku, “Mungkin saja perempuan yang belum bersuami inginnya
menyendiri saja.” Perlahan-lahan kuketuk pintu, sesaat kemudian terdengar suara dari
dalam, “Masuk..!” Saya langsung masuk, kulihat Bu Frisca sedang duduk di belakang
mejanya sambil membuka-buka map. Kutup pintu pelan-pelan. Kulihat Bu Frisca
memandangku sambil tersenyum, sesaat Saya tidak menyangka beliau tersenyum ramah
padSaya. Sedikit demi sedikit Saya mulai dapat merasa tenang, walaupun masih ada
sedikit rasa gugup di hatiku. “Silakan duduk, apa yang bisa Ibu bantu..?” Bu Frisca
langsung mempersilakan Saya duduk, sesaat Saya terpesona oleh kecantikannya.
Bagaimana mungkin dosen yang begitu cantik dan anggun mendapat julukan dosen killer.
Kutarik kursi pelan-pelan, kemudian Saya duduk. “Oke, Christoper, ada apa ke sini, ada
yang bisa Ibu bantu..?” sekali lagi Bu Frisca menanyakan hal itu kepadSaya dengan
senyumnya yang masih mengembang.
Perlahan-lahan kuceritakan masalahku kepada Bu Frisca, mulai dari keinginan orangtua
yang ingin Saya agak cepat menyelesaikan studiku, sampai ke mata kuliah yang saat ini
Saya belum dapat menyelesaikannya. Kulihat Bu Frisca dengan tekun mendengarkan
ceritSaya sambil sesekali tersenyum kepadSaya. Melihat keadaan yang demikian Saya
bertambah semangat bercerita, sampai pada akhirnya dengan spontan Saya berkata, “Apa
saja akan kulSayakan Bu Frisca, untuk dapat menyelesaikan mata kuliah ini. Mungkin
suatu saat membantu Ibu membersihkan rumah, contohnya mencuci piring, mengepel,
atau yah, katakanlah mencuci baju pun Saya akan melSayakannya demi agar mata kuliah
ini dapat saya selesaikan. Saya mohon sekali, berikanlah keringanan nilai mata kuliah Ibu
pada saya.” Mendengar kejujuran dan perkataanku yang polos itu, kulihat Bu Frisca
tertawa kecil sambil berdiri menghampiriku, tawa kecil yang kelihatan misterius, dimana
Saya tidak dapat mengerti apa maksudnya. “Apa saja Christoper..?” kata Bu Frisca seakan
menegaskan perkataanku tadi yang secara spontan keluar dari mulutku tadi dengan nada
bertanya. “Apa saja Bu..!” kutegaskan sekali lagi perkataanku dengan spontan. Sesaat
kemudian tanpa kusadari Bu Frisca sudah berdiri di belakangku, ketika itu Saya masih
duduk di kursi sambil termenung. Sejenak Bu Frisca memegang pundakku sambil berbisik
di telingSaya. “Apa saja kan Christoper..?” Saya mengangguk sambil menunduk, saat itu
Saya belum menyadari apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba saja dari arah belakang, Bu Frisca sudah menghujani pipiku dengan ciumanciuman lembut, sebelum sempat Saya tersadar apa yang akan terjadi. Bu Frisca tiba-tiba
saja sudah duduk di pangkuanku, merangkul kepalSaya, kemudian melumatkan bibirnya
ke bibirku. Saat itu Saya tidak tahu apa yang harus kulSayakan, seketika kedua tangan Bu
Frisca memegang kedua tanganku, lalu meremas-remaskan ke payudaranya yang sudah
mulai mengencang. Saya tersadar, kulepaskan mulutku dari mulutnya. “Bu, haruskah
kita..” Sebelum Saya menyelesaikan ucapanku, telunjuk Bu Frisca sudah menempel di
bibirku, seakan menyuruhku untuk diam. “Sudahlah Christoper, inilah yang Ibu inginkan..”
Setelah berkata begitu, kembali Bu Frisca melumat bibirku dengan lembut, sambil
membimbing kedua tanganku untuk tetap meremas-remas payudaranya yang montok
karena sudah mengencang. Akhirnya timbul hasrat kelelakianku yang normal, seakan
terhipnotis oleh reaksi Bu Frisca yang menggairahkan dan ucapannya yang begitu pasrah,
kami berdua tenggelam dalam hasrat seks yang sangat menggebu-gebu dan panas. Saya
membalas melumat bibirnya yang indah merekah sambil kedua tanganku terus meremasremas kedua payudaranya yang masih tertutup oleh baju itu tanpa harus dibimbing lagi.
Tangan Bu Frisca turun ke bawah perutku, kemudian mengusap-usap kemaluanku yang
sudah mengencang hebat. Dilanjutkan kemudian satu-persatu kancing-kancing bajuku
dibuka oleh Bu Frisca, secara reflek pula Saya mulai membuka satu-persatu kancing baju
Bu Frisca sambil terus bibirku melumat bibirnya. Setelah dapat membuka bajunya, begitu
pula dengan bajuku yang sudah terlepas, gairah kami semakin memuncak, kulihat kedua
payudara Bu Frisca yang memakai BH itu mengencang, payudaranya menyembul indah di
antara BH-nya. Kuciumi kedua payudara itu, kulumat belahannya, payudara yang putih
dan indah.
Kudengar suara Bu Frisca yang mendesah-desah merasakan kFriscakmatan yang
kuberikan. Kedua tangan Bu Frisca mengelus-elus dadSaya yang bidang. Lama Saya
menciumi dan melumat kedua payudaranya dengan kedua tanganku yang sesekali
meremas-remas dan mengusap-usap payudara dan perutnya. Akhirnya kuraba tali
pengait BH di punggungnya, kulepaskan kancingnya, setelah lepas kubuang BH ke
samping. Saat itu Saya benar-benar dapat melihat dengan utuh kedua payudara yang
mulus, putih dan mengencang hebat, menonjol serasi di dadanya. Kulumat putingnya
dengan mulutku sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang lain. Puting yang
menonjol indah itu kukulum dengan penuh gairah, terdengar desahan nafas Bu Frisca
yang semakin menggebu-gebu. “Oh.., oh.., Christoper.. teruskan.., teruskan Christoper..!”
desah Bu Frisca dengan pasrah dan memelas. Melihat kondisi seperti itu, kejantananku
semakin memuncak. Dengan penuh gairah yang mengebu-gebu, kedua puting Bu Frisca
kukulum bergantian sambil kedua tanganku mengusap-usap punggungnya, kedua puting
yang menonjol tepat di wajahku. Payudara yang mengencang keras. Lama Saya
melSayakannya, sampai akhirnya sambil berbisik Bu Frisca berkata, “Angkat Saya ke atas
meja Christoper.., ayo angkat Saya..!” Spontan kubopong tubuh Bu Frisca ke arah meja,
kududukkan, kemudian dengan reflek Saya menyingkirkan barang-barang di atas meja.
Map, buku, pulpen, kertas-kertas, semua kujatuhkan ke lantai dengan cepat, untung
lantainya memakai karpet, sehingga suara yang ditimbulkan tidak terlalu keras. Masih dalam keadaan duduk di atas meja dan Saya berdiri di depannya, tangan Bu Frisca
langsung meraba sabukku, membuka pengaitnya, kemudian membuka celanSaya dan menjatuhkannya ke bawah.
Serta-merta Saya segera membuka celana dalamku, dan melemparkannya ke samping.
Kulihat Bu Frisca tersenyum dan berkata lirih, “Oh.. Christoper.., betapa jantannya kamu..
kemaluanmu begitu panjang dan besar.. Oh.. Christoper, Saya sudah tak tahan lagi untuk
merasakannya.” Saya tersenyum juga, kuperhatikan tubuh Bu Frisca yang setengah
telanjang itu. Kemudian sambil kurebahkan tubuhnya di atas meja dengan posisi Saya
berdiri di antara kedua pahanya yang telentang dengan rok yang tersibak sehingga
kelihatan pahanya yang putih mulus, kuciumi payudaranya, kulumat putingnya dengan
penuh gairah, sambil tanganku bergerilya di antara pahanya. Saya memang menginginkan
pemanasan ini agak lama, kurasakan tubuh kami yang berkeringat karena gairah yang
timbul di antara Saya dan Bu Frisca. Kutelusuri tubuh Bu Frisca yang setengah telanjang
dan telentang itu mulai dari perut, kemudian kedua payudaranya yang montok, lalu leher.
Kudengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan pasrah dari mulut Bu Frisca. Sampai
ketika Bu Frisca menyuruhku untuk membuka roknya, perlahan-lahan kubuka kancing
pengait rok Bu Frisca, kubuka restletingnya, kemudian kuturunkan roknya, lalu kujatuhkan
ke bawah. Setelah itu kubuka dan kuturunkan juga celana dalamnya. Seketika hasrat
kelelakianku semakin menggebu-gebu demi melihat tubuh Bu Frisca yang sudah telanjang
bulat, tubuh yang indah dan seksi, dengan gundukan daging di antara pahanya yang
ditutupi oleh rambut yang begitu rimbun. Terdengar Bu Frisca berkata pasrah, “Ayolah
Christoper.., apa yang kau tunggu..? Ibu sudah tak tahan lagi.” Kurasakan tangan Bu
Frisca menggenggam kemaluanku, menariknya untuk lebih mendekat di antara pahanya
Saya mengikuti kemauan Bu Frisca yang sudah memuncak itu, perlahan tapi pasti
kumasukkan kemaluanku yang sudah mengencang keras layaknya milik kuda perkasa itu
ke dalam vagina Bu Frisca. Kurasakan milik Bu Frisca yang masih agak sempit. Akhirnya
setelah sedikit bersusah payah, seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam vagina Bu
Frisca. Terdengar Bu Frisca merintih dan mendesah, “Oh.., oh.., Christoper.. terus
Christoper.. jangan lepaskan Christoper.. Saya mohon..!” Tanpa pikir panjang lagi disertai
hasratku yang sudah menggebu-gebu, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur dengan
posisi Bu Frisca yang telentang di atas meja dan Saya berdiri di antara kedua pahanya.
Mula-mula teratur, seirama dengan goyangan-goyangan pantat Bu Frisca. Sering
kudengar rintihan-rintihan dan desahan Bu Frisca karena menahan kFriscakmatan yang
amat sangat. Begitu juga Saya, kuciumi dan kulumat kedua payudara Bu Frisca dengan
mulutku. Kurasakan kedua tangan Bu Frisca meremas-remas rambutku sambil sesekali
merintih,
“Oh.. Christoper.. oh.. Christoper.. jangan lepaskan Christoper, kumohon..!” Mendengar
rintihan Bu Frisca, gairahku semakin memuncak, goyanganku bertambah ganas,
kugerakkan kedua pantatku maju-mundur semakin cepat. Terdengar lagi suara Bu Frisca
merintih, “Oh.. Christoper.. kamu memang perkasa.., kau memang jantan.. Christoper..
Saya mulai keluar.. oh..!” “Ayolah Bu.., ayolah kita mencapai puncak bersama-sama, Saya
juga sudah tak tahan lagi,” keluhku. Setelah berkata begitu, kurasakan tubuhku dan tubuh
Bu Frisca mengejang, seakan-akan terbang ke langit tujuh, kurasakan cairan
kFriscakmatan yang keluar dari kemaluanku, semakin kurapatkan kemaluanku ke vagina
Bu Frisca. Terdengar keluhan dan rintihan panjang dari mulut Bu Frisca, kurasakan juga
dadSaya digigit oleh Bu Frisca, seakan-akan nmenahan kFriscakmatan yang amat sangat.
“Oh.. Christoper.. oh.. oh.. oh..” Setelah kukeluarkan cairan dari kemaluanku ke dalam vagina Bu Frisca, kurasakan tubuhku yang sangat kelelahan, kutelungkupkan badanku di
atas badan Bu Frisca dengan masih dalam keadan telanjang, agak lama Saya telungkup
di atasnya. Setelah kurasakan kelelahanku mulai berkurang, Saya langsung bangkit dan
berkata, “Bu, apakah yang sudah kita lSayakan tadi..?”.
Kembali Bu Frisca memotong pembicaraanku, “Sudahlah Christoper, yang tadi itu biarlah
terjadi karena kita sama-sama menginginkannya, sekarang pulanglah dan ini alamat Ibu,
Ibu ingin cerita banyak kepadamu, kamu mau kan..?” Setelah berkata begitu, Bu Frisca
langsung menyodorkan kartu namanya kepadSaya. Kuterima kartu nama yang berisi
alamat itu. Sejenak kutermangu, kembali Saya dikagetkan oleh suara Bu Frisca,
“Christoper, pulanglah, pakai kembali pakaianmu..!” Tanpa basa-basi lagi, Saya langsung
mengenakan pakaianku, kemudian membuka pintu dan keluar ruangan. Dengan gontai
Saya berjalan keluar kampus sambil pikiranku berkecamuk dengan kejadian yang baru
saja terjadi antara Saya dengan Bu Frisca. Saya telah bermain cinta dengan dosen killer
itu. Bagaimana itu bisa terjadi, semua itu diluar kehendakku. Akhirnya walau
bagaimanapun nanti malam Saya harus ke rumah Bu Frisca. Cerita mesum Kudapati
rumah itu begitu kecil tapi asri dengan tanaman dan bunga di halaman depan yang tertata
rapi, serasi sekali keadannya. Langsung kupencet bel di pintu, tidak lama kemudian Bu
Frisce sendiri yang membukakan pintu, kulihat Bu Frisca tersenyum dan mempersilakan
Saya masuk ke dalam. Kuketahui ternyata Bu Frisca hidup sendirian di rumah ini. Setelah
duduk, kemudian kami pun mengobrol. Setelah sekian lama mengobrol, akhirnya
kuketahui bahwa Bu Frisca selama ini banyak dikecewakan oleh laki-laki yang dicintainya.
Semua laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya saja bukan cintanya.
Setelah bosan, laki-laki itu mFriscanggalkan Bu Frisca. Lalu dengan jujur pula dia
memintSaya selama masih menyelesaikan studi, Saya dimintanya untuk menjadi teman
sekaligus kekasihnya. Akhirnya Saya mulai menyadari bahwa posisiku tidak beda dengan
gigolo. Kudengar Bu Frisca berkata, “Selama kamu masih belum wisuda, tetaplah menjadi
teman dan kekasih Ibu. Apa pun permintaanmu kupenuhi, uang, nilai mata kuliahmu agar
lulus, semua akan Ibu penuhi, mengerti kan Christoper..?” Selain melihat kesendirian Bu
Frisca tanpa ada laki-laki yang dapat memuaskan hasratnya, Saya pun juga
mempertimbangkan kelulusan nilai mata kuliahku. Akhirnya Saya pun bersedia menerima
tawarannya. Akhirnya malam itu juga Saya dan Bu Frisca kembali melSayakan apa yang
kami lSayakan siang tadi di ruangan Bu Frisca, di kampus. Tetapi bedanya kali ini Saya
tidak canggung lagi melayani Bu Frisca dalam bercinta. Kami bercinta dengan hebat
malam itu, 3 kali semalam, kulihat senyum kepuasan di wajah Bu Frisca. Walau
bagaimanapun dan entah sampai kapan, Saya akan selalu melayani hasrat seksualnya
yang berlebihan, karena memang ada jaminan mengenai kelulusan mata kuliahku yang
tidak lulus-lulus itu dari dulu. Demikianlah cerita bokep seks MESUM TEMAN KAMPUS
YG JAGO NYEPONG dan IBU FRISCA DOSEN NAKAL oleh cerita SEK DAN NYATA.