MEGA123 - Sebut saja namanya lasti"(nama samaran).Dia adalah seorang wanita bersuku campuran.Bapak nya berasal dari kota Manado dan mamaknya dari kota Makasar,bapaknya adalah seorang polisi berpangkat Serma,sedang ibunya adalah pengusaha kayu.singkat cerita,ketika hari pertama aku ketemu dengan teman kuliahku,rasanya kami langsung akrab karena memang sewaktu kami sama sama duduk di bangku kuliah,kami sangat kompak dan sering tidur bersama dirumah kos ku di Kota Bone.Bahkan sering kali dia mentraktirku."Sir,aku senanang sekali bertemu dengan mu dan memang sudah lama ku cari-cari,maukah kamu menginap bareng sehari atau 2 hari di rumahku?"katanya pada sambil merangkulku dengan erat sekali.Nama temen kuliahku itu adalah Nasir".
Bergabunglah Bersama HAHACUAN Cukup Dengan Satu User ID Nikmati Beragam Game Terlengkap Disini 🔥 BONUS NEW MEMBER 200% 🔥 BONUS NEW MEMBER 100% 🔥 BONUS NEW MEMBER 125% 🔥 BONUS PG-SOFT MEMBER 50% 🔥 BONUS HARIAN MEMBER 30% 🔥 FREESPIN 50% DAN BUYSPIN 35% 🔥 BONUS TURNOVER JADI SALDO 🔥 CASHBACK SLOT 5%
Rabu, 20 Maret 2024
Pengalaman ku ngentot dengan istri temanku
"Kita lihat saja nanti yang jelas aku sangat bersukur kita bisa bertemu di tempat ini.Mungkin inilah namanya nasib baik,Karena aku sama sekali tidak menduga kalo kamu tinggal di kota Makasar ini "jawabku sambil membalas rangkulnya.
"Kami berangkulan cukup lama di sekitar pasar sentral Makasar,tepatnya di tempat jualan cakar."Ayo kita ke rumah dulu sir, nanti kita ngobral panjang lebar di sana.sekaligus ku perkanakan istriku"
ajaknya sambil menuntunku naik ke mobil Fors miliknya,Setelah kami tiba dirumahnya,Nasir terlebih dahulu turun dan segera mebuka pintu mobilnya di sebelah kiri lalu mempersilahkan aku turun,Aku sangat kagum melihat tempat tinggal nya yang berlantai 2 ,lantai bawah di gunakan untuk gudang dan kantor perusahaannya,sementara lantai atas di gunakan sebagai tempat tinggal bersama istri.Aku hanya ikut di belakangnya."inilah hasil usaha kami beberapa tahun di Makasar"katanya sambil menunjukan tumpukan beras dan ruangan kantornya."Wah cukup hebat kamu Sir.Usahamu cukup lumayan.
Kamu sangat berhasil di banding aku yang belum jelas sumber kehidupanku:kataku padanya."Ras,ras,ini lah temen kuliah ku yang ku ceritakan tempo hari.kenalkan istri cantik saya"teriak Nasir memanggil istrinya dan langsung di kenalkan,"Lasti",kata istrinya menyebut namanya ketika kusalami tanganya sambil ia tersenyum ramah dan manis seoalah menunjukan rasa kegembiraan."Yuda"kataku pula sambil membalas senyumanya,Nampaknya Lasti ini adalah seorang istri yang baik hati,ramah dan selalu memelihara kecantikanya,Usianya kutaksir baru sekitar 25 tahun dengan tubuh sedikit langsing dan tinggi badan sekitar 145 cm serta berambut agak panjang,Tanganya terasa hangat dan halus sekali.
Setelah selesai menyambutku ,Lati lalu mempersilahkan duduk dan ia buru buru masuk ke dalam seoalah ada urusan penting di dalam,belum lama kmi berbincang-bincang seputar perjalanan usaha Nasir dan pertemuanya dengan Lasti di kota Makasar ini,dua cangkir kopi susu berserta kue-kue bagus di hidangkan oleh Lasti di atas meja yang ada di depan kami."silahkan kak,dinikmati hidangan ala kadarnya"ajakan Lasti langsung menyentuh langusng ke lubuk hatiku.Selain karena senyuman manisnya,kelembutan suaranya,juga karena penampilan,kecantikan dan sengatan farfumnya yang sangat harum itu,Dalam hati kecilku mengatakan,alahkah senang dan bahagianya Nasir bisa mendapatkan istri seperti lasti ini.Seandainya aku juga mempunyai istri seperti dia,pasti aku tidak kemana mana"Eh,kok malah melamun.
Ada masalah apa yud sampai termenung gitu?Apa yang menganggu pikiranmu?"kata Nasir sambil memegang pundakku,sehingga aku sangt kaget dan tersenggak,Ti..Tidak masalah apa-apa kok.Hanya aku merenungkan sejenak tentang pertemuan kita hari ini.kenapa bisa terjadi yah?"alasankui.Lasti hanya terdiam mendengar kami berbincang-bincang dengan suaminya,tapi sesekali ia memandangiku dan menampakkan wajah cerianya."sekarang giliranmu Yud cerita tetang perjalanan hidup mu bersama istri setelah sejak tadi hanya aku yang berbicar.silahkan saja cerita panjang lebar aku tidak ada kesibukan di luar,lagi pula anggap lah hari ini hari ke istimewahan kita yang perlu di rayakan bersama,Bukan kah begitu ras...?kata nasir seoalah cari dukungan dari istrinya dan waktunya siap di gunakan khusu untuku."oke,kalau gitu aku akan utarakan sedikit tentang kehidupan rumah tangaku,yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan rumah tangga kalian"ucapku samabil memperbaiki dudukku di atas kursi empuk itu.
“Maaf jika terpaksa kuungkapkan secara terus terang. Sebenarnya kedatanganku di kota
Makassar ini justru karena dipicu oleh problem rumah tanggaku.Aku selalu cekcok dan
bertengkar dengan istriku gara-gara aku kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang layak
dan mempu menghidupi keluargaku. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan rumah
guna mencari pekerjaan di kota ini. Eh.. Belum aku temukan pekerjaan, tiba-tiba kita
ketemu tadi setelah dua hari aku ke sana ke mari. Mungkin pertemuan kita ini ada
hikmahnya. Semoga saja pertemuan kita ini merupakan jalan keluar untuk mengatasi
kesulitan rumah tanggaku” Kisahku secara jujur pada Nasir dan istrinya.
Mendengar kisah sedihku itu, Nasir dan istrinya tak mampu berkomentar dan nampak ikut
sedih, bahkan kami semua terdiam sejenak. Lalu secara serentak mulut Nasir dan istrinya
terbuka dan seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba mereka saling menatap dan
menutup kembali mulutnya seolah mereka saling mengharap untuk memulai, namun
malah mereka ketawa terbahak, yang membuatku heran dan memaksa juga
ketawa.“Begini Yud, mungkin pertemuan kita ini benar ada hikmahnya, sebab kebetulan
sekali kami butuh teman seperti kamu di rumah ini.Kami kan belum dikaruniai seorang
anak, sehingga kami selalu kesepian. Apalagi jika aku ke luar kota misalnya ke Bone,
maka istriku terpaksa sendirian di rumah meskipun sekali-kali ia memanggil
kemanakannya untuk menemani selama aku tidak ada, tapi aku tetap menghawatirkannya.
Untuk itu, jika tidak memberatkan, aku inginkan kamu tinggal bersamaku. Anggaplah kamu
sudah dapatkan lapangan kerja baru sebagai sumber mata pencaharianmu. Segala
keperluan sehari-harimu, aku coba menanggung sesuai kemampuanku” kata Nasir
bersungguh-sungguh yang sesekali diiyakan oleh istrinya.“Maaf kawan, aku tidak mau
merepotkan dan membebanimu. Biarlah aku cari kerja di tempat lain saja dan..” Belum aku
selesai bicara, tiba-tiba Nasir memotong dan berkata..“Kalau kamu tolak tawaranku ini
berarti kamu tidak menganggapku lagi sebagai sahabat. Kami ikhlas dan bermaksud baik
padamu Yud” katanya.“Tetapi,” Belum kuutarakan maksudku, tiba-tiba Lasti juga ikut
bicara..“Benar Kak, kami sangat membutuhkan teman di rumah ini. Sudah lama hal ini
kami pikirkan tapi mungkin baru kali ini dipertemukan dengan orang yang tepat dan sesuai
hati nurani.Apalagi Kak Yuda ini memang sahabat lama Kak Nasir, sehingga kami tidak
perlu ragukan lagi. Bahkan kami sangat senang jika Kak sekalian menjemput istrinya untuk
tinggal bersama kita di rumah ini” ucapan Lasti memberi dorongan kuat padaku.“Kalau
begitu, apa boleh buat
Terpaksa kuterima dengan senang hati, sekaligus kuucapkan terima kasih yang tak
terhingga atas budi baiknya. Tapi sayangnya, aku tak memiliki keterampilan apa-apa untuk
membantu kalian” kataku dengan pasrah.Tiba-tiba Nasir dan Lasti bersamaan berdiri dan
langsung saling berpelukan, bahkan saling mengecup bibir sebagai tanda
kegembiraannya. Lalu Nasir melanjutkan rangkulannya padaku dan juga mengecup pipiku,
sehingga aku sedikit malu dibuatnya.“Terima kasih Yud atas kesediaanmu menerima
tawaranku semoga kamu berbahagia dan tidak kesulitan apapun di rumah ini.Kami tak
membutuhkan keterampilanmu, melainkan kehadiranmu menemani kami di rumah ini.
Kami hanya butuh teman bermain dan tukar pikiran, sebab tenaga kerjaku sudah cukup
untuk membantu mengelola usahaku di luar. Kami sewaktu-waktu membutuhkan
nasehatmu dan istriku pasti merasa terhibur dengan kehadiranmu menemani jika aku
keluar rumah” katanya dengan sangat bergembira dan senang mendengar
persetujuanku.Kurang lebih satu bulan lamanya kami seolah hanya diperlakukan sebagai
raja di rumah itu. Makanku diurus oleh Lasti, tempat tidurku terkadang juga dibersihkan
olehnya, bahkan ia meminta untuk mencuci pakaianku yang kotor tapi aku keberatan.
Selama waktu itu pula, aku sudah dilengkapi dengan pakaian, bahkan kamar tidurku
dibelikan TV 20 inch lengkap dengan VCD-nya. Aku sangat malu dan merasa berutang
budi pada mereka, sebab selain pakaian, akupun diberi uang tunai yang jumlahnya cukup
besar bagiku, bahkan belakangan kuketahui jika ia juga seringkali kirim pakaian dan uang
ke istri dan anak-anakku di Bone lewat mobil.Kami bertiga sudah cukup akrab dan hidup
dalam satu rumah seperti saudara kandung bersenda gurau, bercengkerama dan bergaul
tanpa batas seolah tidak ada perbedaan status seperti majikan dan karyawannya.
Kebebasan pergaulanku dengan Lasti memuncak ketika Nasir berangkat ke Sulawesi
Tenggara selama beberapa hari untuk membawa beras untuk di jual di sana karena ada
permintaan dari langgarannya.Pada malam pertama keberangkatan Nasir, Lasti nampak
gembira sekali seolah tidak ada kekhawatiran apa-apa
Bahkan sempat mengatakan kepada suaminya itu kalau ia tidak takut lagi ditinggalkan
meskipun berbulan-bulan lamanya karena sudah ada yang menjaganya, namun
ucapannya itu dianggapnya sebagai bentuk humor terhadap suaminya. Nasir pun nampak
tidak ada kekhawatiran meninggalkan istrinya dengan alasan yang sama.Malam itu kami
(aku dan Lasti) menonton bersama di ruang tamu hingga larut malam, karena kami sambil
tukar pengalaman, termasuk soal sebelum nikah dan latar belakang perkawinan kami
masing-masing. Sikap dan tingkah laku Lasti sedikit berbeda dengan malam-malam
sebelumnya. Malam itu, Lasti membuat kopi susu dan menyodorkanku bersama pisang
susu, lalu kami nikmati bersama-sama sambil nonton.
Ia makan sambil berbaring di sampingku seolah dianggap biasa saja. Sesekali ia
membalikkan tubuhnya kepadaku sambil bercerita, namun aku pura-pura bersikap biasa,
meskipun ada ganjalan aneh di benakku.“Yud, kamu tidak keberatan khan menemaniku
nonton malam ini? Besok khan tidak ada yang mengganggu kita sehingga kita bisa tidur
siang sepuasnya?” tanya Lasti tiba-tiba seolah ia tak mengantuk sedikitpun.“Tidak kok
Ras. Aku justru senang dan bahagia bisa nonton bersama majikanku” kataku sedikit
menyanjungnya. Lasti lalu mencubitku dan..“Wii de.. De, kok aku dibilangin majikan. Sebel
aku mendengarnya. Ah, jangan ulang kata itu lagi deh, aku tak sudi dipanggil majikan”
katanya.“Hi.. Hi.. Hi, tidak salah khan. Maaf jika tidak senang, aku hanya main-main.
Lalu aku harus panggil apa? Adik, Non, Nyonya atau apa?”“Terserah dech, yang penting
bukan majikan. Tapi aku lebih seneng jika kamu memanggil aku adik” katanya santai.“Oke
kalau begitu maunya. Aku akan panggil adik saja” kataku lagi.Malam semakin larut. Tak
satupun terdengar suara kecuali suara kami berdua dengan suara TV. Lasti tiba-tiba
bangkit dari pembaringannya.“Yud, apa kamu sering nonton kaset VCD bersama istrimu?”
tanya Lasti dengan sedikit rendah suaranya seolah tak mau didengar orang lain.“Eng..
Pernah, tapi sama-sama dengan orang lain juga karena kami nonton di rumahnya”
jawabku menyembunyikan sikap keherananku atas pertanyaannya yang tiba-tiba dan
sedikit aneh itu.“Kamu ingat judulnya? Atau jalan ceritanya?” tanyanya lagi.“Aku lupa
judulnya, tapi pemainnya adalah Rhoma Irama dan ceritanya adalah masalah percintaan”
jawabku dengan pura-pura bersikap biasa.“Masih mau ngga kamu temani aku nonton film
dari VCD? Kebetulan aku punya kaset VCD yang banyak. Judulnya macam-macam.
Terserah yang mana yuda suka” tawarannya, tapi aku sempat berfikir kalau Lasti akan
memutar film yang aneh-aneh, film orang dewasa dan biasanya khusus ditonton oleh
suami istri untuk membangkitkan gairahnya
Setelah kupikir segala resiko, kepercayaan dan dosa, aku lalu bikin alasan.“Sebenarnya
aku senang sekali, tapi aku takut.. Eh.. Maaf aku sangat ngantuk. Jika tidak keberatan, lain
kali saja, pasti kutemani” kataku sedikit bimbang dan takut alasanku salah. Tapi akhirnya ia
terima meskipun nampaknya sedikit kecewa di wajahnya dan kurang semangat.“Baiklah
jika memang kamu sudah ngantuk. Aku tidak mau sama sekali memaksamu, lagi pula aku
sudah cukup senang dan bahagia kamu bersedia menemaniku nonton sampai selarut ini.
Ayo kita masuk tidur” katanya sambil mematikan TV-nya, namun sebelum aku menutup
pintu kamarku, aku melihat sejenak ia sempat memperhatikanku, tapi aku pura-pura tidak
menghiraukannya.Di atas tempat tidurku, aku gelisah dan bingung mengambil keputusan
tentang alasanku jika besok atau lusa ia kembali mengajakku nonton film tersebut. Antara
mau, malu dan rasa takut selalu menghantukiku. Mungkin dia juga mengalami hal yang
sama, karena dari dalam kamarku selalu terdengar ada pintu kamar terbuka dan tertutup
serta air di kamar mandi selalu kedengaran tertumpah.
Setelah kami makan malam bersama keesokan harinya, kami kembali nonton TV samasama di ruang tamu, tapi penampilan Lasti kali ini agak lain dari biasanya. Ia berpakaian
serba tipis dan tercium bau farfumnya yang harum menyengat hidup sepanjang ruang
tamu itu. Jantungku sempat berdebar dan hatiku gelisah mencari alasan untuk menolak
ajakannya itu, meskipun gejolak hati kecilku untuk mengikuti kemauannya lebih besar dari
penolakanku.Belum aku sempat menemukan alasan tepat, maka“Yud, masih ingat janjimu
tadi malam? Atau kamu sudah ngantuk lagi?” pertanyaan Lasti tiba-tiba
mengagetkanku.“O, oohh yah, aku ingat. Nonton VCD khan? Tapi jangan yang seramseram donk filmnya, aku tak suka. Nanti aku mimpi buruk dan membuatku sakit, khan
repot jadinya” jawabku mengingatkan untuk tidak memutar film porn.“Kita liat aja
permainannya. Kamu pasti senang menyaksikannya, karena aku yakin kamu belum
pernah menontonnya, lagi pula ini film baru” kata Lasti sambil meraih kotak yang berisi
setumpuk kaset VCD lalu menarik sekeping kaset yang paling di atas seolah ia telah
mempersiapkannya, lalu memasukkan ke CD, lalu mundur dua langkah dan duduk di
sampingku menunggu apa gerangan yang akan muncul di layar TV tersebut.Dag, dig, dug,
getaran jantungku sangat keras menunggu gambar yang akan tampil di layar TV. Mulamula aku yakin kalau filmnya adalah film yang dapat dipertontonkan secara umum karena
gambar pertama yang muncul adalah dua orang gadis yang sedang berloma naik speed
board atau sampan dan saling membalap di atas air sungat. Namun dua menit kemudian,
muncul pula dua orang pria memburuhnya dengan naik kendaraan yang sama, akhirnya
keempatnya bertemu di tepi sungai dan bergandengan tangan lalu masuk ke salah satu
villa untuk bersantai bersama
Tak lama kemudian mereka berpasang-pasangan dan saling membuka pakaiannya, lalu
saling merangkul, mencium dan seterusnya sebagaimana layaknya suami istri. Niat
penolakanku tadi tiba-tiba terlupakan dan terganti dengan niat kemauanku. Kami tidak
mampu mengeluarkan kata-kata, terutama ketika kami menyaksikan dua pasang muda
mudi bertelanjang bulat dan saling menjilati kemaluannya, bahkan saling mengadu alat
yang paling vitalnya. Kami hanya bisa saling memandang dan tersenyum.“Gimana Yud?
Asyik khan? Atau ganti yang lain saja yang lucu-lucu?” pancing Lasti, tapi aku tak
menjawabnya, malah aku melenguh panjang.“Apa kamu sering dan senang nonton film
beginian bersama suamimu?” giliran aku bertanya, tapi Lasti hanya menatapku tajam lalu
mengangguk.“Hmmhh” kudengar suara nafas panjang Lasti keluar dari mulutnya.“Apa
kamu pernah praktekkan seperti di film itu Yud?” tanya Lasti ketika salah seorang
wanitanya sedang menungging lalu laki-lakinya menusukkan kontolnya dari belakang lalu
mengocoknya dengan kuat.“Tidak, belum pernah” jawabku singkat sambil kembali
bernafas panjang.“Maukah kamu mencobanya nanti?” tanya Lasti dengan suara
rendah.“Dengan siapa, kami khan pisah dengan istri untuk sementara” kataku.“Jika kamu
bertemu istrimu nanti atau wanita lain misalnya” kata Lasti.“Yachh.. Kita liat saja nanti.
Boleh juga kami coba nanti hahaha” kataku.“Yud, apa malam ini kamu tidak ingin
mencobanya?” Tanya Lasti sambil sedikit merapatkan tubuhnya padaku. Saking rapatnya
sehingga tubuhnya terasa hangatnya dan bau harumnya.“Dengan siapa? Apa dengan
wanita di TV itu?” tanyaku memancing.“Gimana jika dengan aku? Mumpung hanya kita
berdua dan nggak bakal ada orang lain yang tahu. Mau khan?” Tanya Lasti lebih jelas lagi
mengarah sambil menyentuh tanganku, bahkan menyandarkan badannya ke
badanku.Sungguh aku kaget dan jantungku seolah copot mendengar rincian
pertanyaannya itu, apalagi ia menyentuhku. Aku tidak mampu lagi berpikir apa-apa,
melainkan menerima apa adanya malam itu. Aku tidak akan mungkin mampu menolak dan
mengecewakannya, apalagi aku sangat menginginkannya, karena telah beberapa bulan
aku tidak melakukan sex dengan istriku. Aku mencoba merapatkan badanku pula, lalu
mengelus tangannya dan merangkul punggungnya, sehingga terasa hangat sekali.“Apa
kamu serius? Apa ini mimpi atau kenyataan?” Tanyaku amat gembira.“Akan kubuktikan
keseriusanku sekarang. Rasakan ini sayang” tiba-tiba Lasti melompat lalu mengangkangi
kedua pahaku dan duduk di atasnya sambil memelukku, serta mencium pipi dan bibirku
bertubi-tubi.Tentu aku tidak mampu menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku segera
menyambutnya dan membalasnya dengan sikap dan tindakan yang sama. Nampaknya
Lasti sudah ingin segera membuktikan dengan melepas sarung yang dipakainya, tapi aku
belum mau membuka celana panjang yang kepakai malam itu.Pergumulan kami dalam
posisi duduk cukup lama, meskipun berkali-kali Lasti memintaku untuk segera melepaskan
celanaku, bahkan ia sendiri beberapa kali berusaha membuka kancingnya, tapi selalu saja
kuminta agar ia bersabar dan pelan-pelan sebab waktunya sangat panjang.Kupuaskan
Istri Temanku Yang Haus Sex “Ayo Kak Yud, cepat sayang. Aku sudah tak tahan ingin
membuktikannya” rayu Lasti sambil melepas rangkulannya lalu ia tidur telentang di atas
karpet abu-abu sambil menarik tanganku untuk menindihnya. Aku tidak tega membiarkan
ia penasaran terus, sehingga aku segera menindihnya.“Buka celana sayang. Cepat.. Aku
sudah capek nih, ayo dong,” pintanya.Akupun segera menuruti permintaannya dan
melepas celana panjangku. Setelah itu, Lasti menjepitkan ujung jari kakinya ke bagian
atas celana dalamku dan berusaha mendorongnya ke bawah, tapi ia tak berhasil karena
aku sengaja mengangkat punggungku tinggi-tinggi untuk menghindarinya.Ketika ak umencoba menyingkap baju daster yang dipakaianya ke atas lalu ia sendiri melepaskannya,
aku kaget sebab tak kusangka kalau ia sama sekali tidak pakai celana. Dalam hatiku
bahwa mungkin ia memang sengaja siap-siap akan bersetubuh denganku malam itu.
Di bawah sinar lampu 10 W yang dibarengi dengan cahaya TV yang semakin seru
bermain bugil, aku sangat jelas menyaksikan sebuah lubang yang dikelilingi daging
montok nan putih mulus yang tidak ditumbuhi bulu selembar pun.Tampak menonjol sebuah
benda mungil seperti biji kacang di tengah-tengahnya. Rasanya cukup menantang dan
mempertinggi birahiku, tapi aku tetap berusaha mengendalikannya agar aku bisa lebih
lama bermain-main dengannya. Ia sekarang sudah bugil 100%, sehingga terlihat bentuk
tubuhnya yang langsing, putih mulus dan indah sekali dipandang.“Ayo donk, tunggu apa
lagi sayang. Jangan biarkan aku tersiksa seperti ini” pinta Lasti tak pernah berhenti untuk
segera menikmati puncaknya.“Tenang sayang. Aku pasti akan memuaskanmu malam ini,
tapi saya masih mau bermain-main lebih lama biar kita lebih banyak
menikmatinya”katakuSecara perlahan tapi pasti, ujung lidahku mulai menyentuh tepi
lubang kenikmatannya sehingga membuat pinggulnya bergerak-gerak dan
berdesis.“Nikmat khan kalau begini?” tanyaku berbisik sambil menggerak-gerakkan
lidahku ke kiri dan ke kanan lalu menekannya lebih dalam lagi sehingga Lasti setengah
berteriak dan mengangkat tinggi-tinggi pantatnya seolah ia menyambut dan ingin
memperdalam masuknya ujung lidahku.Ia hanya mengangguk dan memperdengarkan
suara desis dari mulutnya.“Auhh.. Aakkhh.. Iihh.. Uhh.. Oohh.. Sstt” suara itu tak mampu
dikurangi ketika aku gocok-gocokkan secara lebih dalam dan keras serta cepat keluar
masuk ke lubang kemaluannya.“Teruuss sayang, nikkmat ssekalii.. Aakhh.. Uuhh. Aku
belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya” katanya dengan suara yang agak keras
sambil menarik-narik kepalaku agar lebih rapat lagi.“Bagaimana? Sudah siap menyambut
lidahku yang panjang lagi keras?” tanyaku sambil melepaskan seluruh pakaianku yang
masih tersisa dan kamipun sama-sama bugil.Persentuhan tubuhku tak sehelai benangpun
yang melapisinya. Terasa hangatnya hawa yang keluar dari tubuh kami.“Iiyah,. Dari tadi
aku menunggu. Ayo,. Cepat” kata Lasti tergesa-gesa sambil membuka lebar-lebar kedua
pahanya, bahkan membuka lebar-lebar lubang vaginanya dengan menarik kiri kanan
kedua bibirnya untuk memudahkan jalannya kemaluanku masuk lebih dalam lagi.Aku pun
tidak mau menunda-nunda lagi karena memang aku sudah puas bermain lidah di mulut
atas dan mulut bawahnya, apalagi keduanya sangat basah. Aku lalu mengangkat kedua
kakinya hingga bersandar ke bahuku lalu berusaha menusukkan ujung kemaluanku ke
lubang vagina yang sejak tadi menunggu itu. Ternyata tidak mampu kutembus sekaligus
sesuai keinginanku. Ujung kulit penisku tertahan, padahal Lasti sudah bukan perawan
lagi.“Ssaakiit ssediikit.., ppeelan-pelan sedikit” kata Lasti ketika ujung penisku sedikit
kutekan agak keras. Aku gerakkan ke kiri dan ke kanan tapi juga belum berhasil
amblas.Aku turunkan kedua kakinya lalu meraih sebuah bantal kursi yang di belakanku
lalu kuganjalkan di bawah pinggulnya dan membuka lebar kedua pahanya lalu kudorong
penisku agak keras sehingga sudah mulai masuk setengahnya. Lasti pun merintih keras
tapi tidak berkata apa-apa, sehingga aku tak peduli, malah semakin kutekan dan kudorong
masuk hingga amblas seluruhnya. Setelah seluruh batang penisku terbenam semua, aku
sejenak berhenti bergerak karena capek dan melemaskan tubuhku di atas tubuh Lasti
yang juga diam sambil bernafas panjang seolah baru kali ini menikmati betul
persetubuhan.Lasti kembali menggerak-gerakkan pinggulnya dan akupun menyambutnya.
Bahkan aku tarik maju mundur sedikit demi sedikit hingga jalannya agak cepat lalu cepat
sekali. Pinggul kami bergerak, bergoyang dan berputar seirama sehingga menimbulkan
bunyi-bunyian yang berirama pula.“Tahan sebentar” kataku sambil mengangkat kepala
Lasti tanpa mencabut penisku dari lubang vagina Lasti sehingga kami dalam posisi duduk.Kami saling merangkul dan menggerakkan pinggul, tapi tidak lama karena terasa
sulit. Lalu aku berbaring dan telentang sambil menarik kepada Lasti mengikutiku, sehingga
Lasti berada di atasku. Kusarankan agar ia menggoyang, mengocok dan memompa
dengan keras lagi cepat. Ia pun cukup mengerti keinginanku sehingga kedua tangannya
bertumpu di atas dadaku lalu menghentakkan agak keras bolak balik pantatnya ke
penisku, sehingga terlihat kepalanya lemas dan seolah mau jatuh sebab baru kali itu ia
melakukannya dengan posisi seperti itu. Karena itu, kumaklumi jika ia cepat capek dan
segera menjatuhkan tubuhnya menempel ke atas tubuhku, meskipun pinggulnya masih
tetap bergerak naik turun.“Kamu mungkin sangat capek. Gimana kalau ganti posisi?”
kataku sambil mengangkat tubuh Lasti dan melapas rangkulannya.“Posisi bagaimana lagi?
Aku sudah beberapa kali merasa nikmat sekali” tanyanya heran seolah tidak tahu apa
yang akan kulakukan, namun tetap ia ikuti permintaanku karena ia pun merasa sangat
nikmat dan belum pernah mengalami permainan seperti itu sebelumnya.“Terima saja
permainanku. Aku akan tunjukkan beberapa pengalamanku”“Yah.. Yah.. Cepat lakukan
apa saja” katanya singkat.Aku berdiri lalu mengangkat tubuhnya dari belakang dan
kutuntunnya hingga ia dalam posisi nungging. Setelah kubuka sedikit kedua pahanya dari
belakan, aku lalu menusukkan kembali ujung penisku ke lubangnya lalu mengocok dengan
keras dan cepat sehingga menimbulkan bunyi dengan irama yang indah seiring dengan
gerakanku. Lasti pun terengah-engah dan napasnya terputus-putus menerima kenikmatan
itu. Posisi kami ini tak lama sebab Lasti tak mampu menahan rasa capeknya berlutut
sambil kupompa dari belakan. Karenanya, aku kembalikan ke posisi semula yaitu tidur
telentang dengan paha terbuka lebar lalu kutindih dan kukocok dari depan, lalu kuangkat
kedua kakinya bersandar ke bahuku.Posisi inilah yang membuat permainan kami
memuncak karena tak lama setelah itu, Lasti berteriak-teriak sambil merangkul keras
pinggangku dan mencakar-cakar punggungku. Bahkan sesekali menarik keras wajahku
menempel ke wajahnya dan menggigitnya dengan gigitan kecil. Bersamaan dengan itu
pula, aku merasakan ada cairan hangat mulai menjalar di batang penisku, terutama ketika
terasa sekujur tubuh Lasti gemetar.Aku tetap berusaha untuk menghindari pertemuan
antara spermaku dengan sel telur Lasti, tapi terlambat, karena baru aku mencoba
mengangkat punggungku dan berniat menumpahkan di luar rahimnya, tapi Lasti malah
mengikatkan tangannya lebih erat seolah melarangku menumpahkan di luar yang akhirnya
cairan kental dan hangat itu terpaksa tumpah seluruhnya di dalam rahim Lasti. Lasti
nampaknya tidak menyesal, malah sedikit ceria menerimanya, tapi aku diliputi rasa takut
kalau-kalau jadi janin nantinya, yang akan membuatku malu dan hubungan
persahabatanku berantakan.Setelah kami sama-sama mencapai puncak, puas dan
menikmati persetubuhan yang sesungguhnya, kami lalu tergeletak di atas karpet tanpa
bantal. Layar TV sudah berwarna biru karena pergumulan filmnya sejak tadi selesai. Aku
lihat jam dinding menunjukkan pukul 12.00 malam tanpa terasa kami bermain kurang lebih
3 jam. Kami sama-sama terdiam dan tak mampu berkata-kata apapun hingga tertidur
lelap. Setelah terbangun jam 7.00 pagi di tempat itu, rasanya masih terasa capek
bercampur segar.“Yud, kamu sangat hebat. Aku belum pernah mendapatkan kenikmatan
dari suamiku selama ini seperti yang kamu berikan tadi malam” kata Lasti ketika ia juga
terbangun pagi itu sambil merangkulku.“Benar nih, jangan-jangan hanya gombal untuk
menyenangkanku” tanyaku.“Sumpah.. Terus terang suamiku lebih banyak memikirkan
kesenangannya dan posisi mainnya hanya satu saja.Ia di atas dan aku di bawah.
Kadang ia loyo sebelum kami apa-apa. Kontolnya pendek sekali sehingga tidak mampu
memberikan kenikmatan padaku seperti yang kami berikan. Andai saja kamu suamiku,
pasti aku bahagia sekali dan selalu mau bersetubuh, kalau perlu setiap hari dan setiap
malam” paparnya seolah menyesali hubungannya dengan suaminya dan membandingkan
denganku.“Tidak boleh sayang. Itu namanya sudah jodoh yang tidak mampu kita tolak.Kita
pun berjodoh bersetubuh dengan cara selingkuh. Sudahlah. Yang penting kita sudah
menikmatinya dan akan terus menikmatinya” kataku sambil menenangkannya sekaligus
mencium keningnya.“Maukah kamu terus menerus memberiku kenikmatan seperti tadi
malam itu ketika suamiku tak ada di rumah” tanyanya menuntut janjiku.“Iyah, pasti selama
aman dan aku tinggal bersamamu. Masih banyak permainanku yang belum kutunjukkan”
kataku berjanji akan mengulanginya“Gimana kalau istri dan anak-anakmu nanti datang?”
tanyanya khawatir.“Gampang diatur. Aku kan pembantumu, sehingga aku bisa selalu dekat
denganmu tanpa kecurigaan istriku.Apalagi istriku pasti tak tahan tinggal di kota sebab ia
sudah terbiasa di kampung bersama keluarganya tapi yang kutakutkan jika kamu hamil
tanpa diakui suamimu” kataku.“Aku tak bakal hamil, karena aku akan memakan pil KB
sebelum bermain seperti yang kulakukan tadi malam, karena memang telah
kurencanakan” kara Lasti terus terang.Setelah kami bincang-bincang sambil tiduran di atas
karpet, kami lalu ke kamar mandi masing-masing membersihkan diri lalu kami ke halaman
rumah membersihkan setelah sarapan pagi bersama. Sejak saat itu, kami hampir setiap
malam melakukannya, terutama ketika suami Lasti tak ada di rumah, baik siang hari
apalagi malam hari, bahkan beberapa kali kulakukan di kamarku ketika suami Lasti masih
tertidur di kamarnya, sebab Lasti sendiri yang mendatangi kamarku ketika sedang
“haus”.Entah sampai kapan hal ini akan berlangsung, tapi yang jelas hingga saat ini kami
masih selalu ingin melakukannya dan belum ada tanda-tanda kecurigaan dari suaminya
dan dari istriku.

.gif)